Info Handphone

For mobile phone users (hp) hopefully by reading this site, can help to provide guidance before purchasing. Or already bought but not yet able to use the maximum. Hopefully ...

Showing posts with label Rakyat. Show all posts
Showing posts with label Rakyat. Show all posts

Tuesday, January 12, 2010

Ada Bangsat dan Maling di Gedung DPR?

Beberapa waktu yang lalu ada teriakan : BANGSAT yang berasal dari mulut Ruhut Sitompul (anggotra DPR yang terhormat) yang ditujukan kepada Gayus Lumbuun (juga anggota DPR).

Tadi siang seorang aktivis dari Kapak meneriakkan Boediono, “Maling.”

Menurut Vivanews, kerusuhan terjadi saat mantan Gubernur Bank Indonesia Boediono memberi kesaksian di hadapan Panitia Khusus (Pansus) Angket Century di Gedung DPR.

Pantauan VIVAnews di Gedung DPR, Jakarta, Selasa 12 Januari 2010, Boediono sedang memberikan keterangan tentang status uang Lembaga Penjamin Simpanan atau LPS.

“Saya tidak tahu uang LPS itu uang negara atau bukan,” kata Boediono. Tiba-tiba dari atas balkon, pria botak dan berperawakan agak gemuk itu tiba-tiba berteriak, “Boediono maling, Boediono maling.”

Oh, alamak. Pertanda apa ini?

Posted by Informan HP in 6:36 PM No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Label: Bail Out, Bangsat, Century, Ekonomi, Indonesia, Jakarta, Korupsi, Lambang Negara, Maling, Opini, Orde Reformasi, Politik, Rakyat, Refleksi, Sosial, Undang Undang

Thursday, January 22, 2009

Minta Tolong Bikin Trenyuh

Panci bolong ditukar dengan lauk pauk. Mau?

Dalam acara RCTI bertajuk Minta Tolong, yang saya lihat sore tadi, membuat saya trenyuh. Bayangkan, lebih dari 117 orang yang dimintai tolong (oleh seorang perempuan setengah baya, lusuh) untuk menukar panci bolong dengan lauk pauk, menolak mentah-mentah.

Hingga akhirnya, seorang penjual nasi bungkus, Sri Sunarti tergerak hatinya, untuk memberi lauk pauk berupa kepala ayam. Tak terbayangkan seandainya saya yang bertemu dengan wanita lusuh tersebut. Maukah saya bersikap sama dengan penjual nasi bungkus itu.
Bagaimana kalau Anda yang dituju oleh wanita tersebut?

Posted by Informan HP in 2:47 AM No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Label: Budaya, Ekonomi, Ibu, Indonesia, Keluarga, Opini, Rakyat, Refleksi

Wednesday, January 14, 2009

Warga Malang Nan Malang

Sudah sebulan lebih, warga Malang Raya, kecuali Kecamatan Lawang, dikejutkan oleh raibnya siaran sejumlah TV swasta nasional maupun lokal. Ada 11 stasiun TV yang menghentikan siaran. Padahal, mereka telah hadir dan merasuk ke hati masyarakat Malang hamper satu dasawarsa. Apa pasal?

Reformasi 1998 yang ditandai dengan kebebasan pers membuat penyampaian informasi, baik melalui media cetak maupun elektronik. Dengan alasan semangat melaksanakan otoda dan melempemnya aktivitas Balai Monitoring (Balmon), pemerintah daerah, komunitas agama, dan pengusaha-pengusaha lokal menirunya dengan mendirikan TV local. Di Malang Raya setidaknya ada 7 stasiun TV local, antara lain JTV, Malang TV, Batu TV, Agropolitan TV, Dharma TV dan Space Toon. Sementara untuk pemancar stasiun TV Swasta Nasional, muncul Trans TV, Metro TV, tvOne, Trans 7, Global TV.

Kini, kesemuanya harus raib dari langit Malang Raya – kecuali Kecamatan Lawang, yang memang bisa langsung mengarahkan antene TV-nya ke Surabaya.

Sesuai dengan Kepmenhub, ada 7 kanal TV di Malang Raya. Dari 7 kanal itu 6 sudah terisi oleh TVRI, RCTI, SCTV, TPI, ANTV, dan Indosiar. Sementara yang 1 kanal harus diperebutkan oleh 11 stasiun TV yang kini berhenti siaran.

Dampak ‘pembredelan’ ini mau tidak mau warga Malang harus memasang TV kabel untuk mengetahui acara stasiun TV lain. Sementara warga yang tidak berlangganan TV kabel terpaksa harus menunggu hingga pemerintah melaksanakan migrasi sistem penyiaran analog ke sistem digital pada tahun 2015.

Kalau ini yang terjadi, masyarakat Malang benar-benar akan ‘terpasung’ lama dari informasi dan hiburan pertelevisian.

[ sumber: Warga Malang ‘Terpasung’ Informasi & Harusnya Desak Revisi Kepmen No 76, Lipsus Harian Surya, 12 Januari 2009 ]

Posted by Informan HP in 10:32 PM No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Label: Opini, Rakyat, Sosial, Televisi

Monday, January 12, 2009

Murahnya Hidup di Surabaya

Meski selama ini dikenal sebagai kota terbesar kedua di Indonesia setelah DKI Jakarta, biaya hidup di kota Surabaya ternyata tidak lantas menjadi termahal kedua pula. Malahan yang mengejutkan, biaya hidup di kota Surabaya adalah yang paling murah dibandingkan dengan biaya hidup di seluruh ibukota propinsi besar di Jawa Seperti Bandung, Semarang serta Yogyakarta.

Hasil Survey Biaya Hidup yang dilakukan oleh Lembaga Survet terkemuka Mercer yang dilakukan tahun 2008 lalu.

Lengkapnya Hasil Survey itu sebagai berikut:







[sumber: (Hidup di Surabaya Termurah – Harian SURYA, 10/01/09) ]
Posted by Informan HP in 2:42 AM No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Label: Biaya Hidup, Indonesia, Opini, Rakyat, Refleksi, Sosial, Surabaya, Survey

Sunday, January 4, 2009

Jihad Kita Untuk Palestina

Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Tadi sore saya menerima SMS yang berbunyi (antara lain): Tolong membaca laa ilaaha illallah Allahu Akbar dan surat Al-Ikhlas sebanyak 3 kali untuk keselamatan Masjidil Aqsa dan ummat Islam yang ada di Palestina yang jam ini sedang dikepung dan diserang Israel dan konco-konconya.


SMS-kan pesan ini minimal ke 10 orang sebagai partisipasi jihad Anda. ALLAHU AKBAR!

Merasa bahwa pesan ini baik, saya tidak saja mengirim ke lebih dari 10 orang. Saya tampilkan di sini agar bisa dibaca, diamalkan dan disebarkan di seantero jagad raya.

Wassalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh.
Posted by Informan HP in 3:56 AM No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Label: Al-Ikhlas, Israel, Jihad, Opini, Palestina, Pengumuman, Politik, Rakyat, Refleksi, Yahudi

Wednesday, December 31, 2008

Kantin Kejujuran: Hanya Sebuah Utopia

KRISIS kepercayaan tampaknya sudah mengakar dalam sendi kehidupan negara kita. Banyaknya kerusuhan dan demonstrasi mengindisikan ada rasa ketidakpercayaan rakyat terhadap pemerintah. Krisis kepercayaan ini disebabkan oleh ketidakjujuran dari pemerintah kita. Korupsi merupakan suatu bentuk ketidakjujuran itu. Tindakan penyelewengan pemerintah terhadap amanat rakyat. Namun, untuk memberantas korupsi tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Tidak se-instant membuat mi. Perlu waktu panjang dalam mengubah keadaan ini.

Berbagai cara memerangi korupsi antara lain dengan pemangkasan generasi tua yang notabene dicap sebagai koruptor atau hukuman mati bagi pelaku koruptor seperti yang diterapkan di China, bukan merupakan langkah yang efektif dalam memberantas akar korupsi. Mengingat bahwa korupsi sudah menjadi budaya bangsa.

Hampir seluruh masyarakat mau tidak mau, merasa ataupun tidak pasti terlibat di dalamnya. Oleh karena itu, untuk memberantas korupsi haruslah dimulai dari penanaman sikap antikorupsi (budaya jujur) dalam masyarakat dan harus ditanamkan sejak dini.

Hal ini dimaksudkan agar budaya antikorupsi mengakar pada jiwa individu-individu kecil, yang nantinya diharapkan menjadi benteng dari budaya korupsi atau budaya ketidakjujuran (budaya menipu) secara luas.
Salah satunya, menggalakkan pendirian “kantin kejujuran” yang dimulai dari tingkat sekolah. Kantin kejujuran ini memang sudah lama didengung-dengungkan oleh banyak orang.

Tetapi, belum ada pelaksanaan yang signifikan. Namun kemarin dalam memperingati Hari Anti Korupsi se-Dunia, sejumlah sekolah di Jawa Timur mulai menerapkan “kantin kejujuran” di lingkungan sekolah mereka (Surya 10/12/2008).

Dalam “kantin kejujuran” ini mereka mengambil makanan sendiri, membayar sendiri, dan mengambil kembalian sendiri. Suatu upaya yang cerdas dalam melatih kejujuran para individu-individu muda agar terbiasa berbuat jujur. Mungkin terdengar biasa, tapi bagi sebagian orang yang sudah terbiasa berbuat tidak jujur akan sangat sulit melakukannya. (Kantin Kejujuran, Zerry Mey – Surya live)

Niat yang baik ini nampaknya belum berjalan mulus. Buktinya, Kantin Kejujuran di SMUN I BoyolanguKabupaten Tlulungagung yang dilaunching 20 hari yang lalu, kini tutup akibat bangkrut.Pasalnya modal awal yang diharapkan bisa mencegah perilaku korupso sejak dini,ternyuata tidak kembali alias dikorupsi sebagian siswa. (Kantin Kejujuran Bangkrut - Harian Surya, 29 Desember 2008).

Menurut saya, adalah hol yang mustahal, bila anak-anak (baca: murid) disuruh jujur, manakala yang dewasa banyak yang belum mau berbuat jujur. Ibarat pepatah: Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari. Bahkan ada yang mempelesetkan Murid (maaf) Mengencingi Guru.

Lebih baik perbanyak teladan, niscaya tanpa adanya kantin kejujuran, kejujuran akan muncul di setiap sanubari anak bangsa negeri ini.
Posted by Informan HP in 10:52 PM No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Label: Anak, Budaya, Hukum, Indonesia, Iseng, Kantin, kejujuran, Keluarga, Korupsi, Opini, Orde Reformasi, Pendidikan, Rakyat, Refleksi, Sekolah

Saturday, December 27, 2008

Saya dan Tahun Baru 2009: Sebuah Refleksi

Setiap menjelang akhir tahun hampir sebagian besar masyarakat di seluruh dunia begitu semangat untuk menyambut kepergiannya. Semangat yang sama juga ditujukan kepada datangnya tahun baru. Demikian pula halnya dalam menyambut tahun 2009 yang tinggal menghitung hari.

Kalau Tahun Masehi hadir pada tanggal 1 Januari 2009, maka Tahun Islam (1 Muharram 1430 Hijriyah) akan hadir 2 hari lebih awal, yaitu tanggal 29 Desember 2008. Sementara Tahun Baru Imlek 2560 akan hadir pada tanggal 26 Januari 2009. Dan menurut shio Cina Tahun Anjing Tanah (2008) akan digantikan dengan Tahun Kerbau Tanah.

Yang umum dirayakan oleh segenap penjuru dunia adalah Tahun Baru Masehi, demikian pula halnya dengan saya.

Pada tahun 80-an saya biasanya (bersama teman-teman) melewati pergantian tahun dengan berkeliling kota Malang, lantas menuju ke Batu menikmati keindahan kota Malang di ‘Payung’ sambil makan jagung dan sedikit alkohol. Dan menjelang terbit fajar kami pun segera bergeser pulang dan masuk ke peraduan. Seharian.

Pada awal tahun 90-an lain lagi. Pada saat masih aktif di kelompok teater (Teater Melarat namanya. Melarat di sini bukan berarti miskin, melainkan me-larat – seperti kuda yang lari kencang) kami segenap anggota duduk bersila di lantai secara melingkar. Menjelang detik-detik kepergian tahun, kami satu demi satu, diharuskan menyampaikan semacam pengungkapan diri tentang apa saja. Harapan, pengakuan dosa, atau apalah yang dianggap patut untuk disampaikan. Dan setelah hadir itu tahun baru, ada semacam pengisian (kalau di pengajian namanya mauidho hasanah) dari tokoh yang sengaja diundang.

Pada akhir tahun 90-an (saat Teater Melarat sudah tak lagi aktif) kami sering bersama-sama kelompok musik yang bernama IQ Rendah sering diundang dalam acara-acara yang diadakan dalam rangka old and new. Mulai dari pelosok kampung hingga hotel berbintang. Saya sendiri bertindak sebagai pembawa acaranya, karena saya memang tidak bisa ‘nyanyi’ dengan baik dan benar.

Pada saat menjelang millennium kedua (yang terkenal dengan istilah Y2K) lain lagi ceritanya. Saat itu saya sudah berumah tangga. Masa hura-hura sudah lama saya tinggalkan. Dan hanya tinggal kenangan belaka. Saya biasanya menonton televisi bersama anak-anak saya hingga laurt malam. Setelah itu saya pergi keluar rumah untuk menikmati aroma tahun baru.

Belakangan ini (sekitar dua tahun yang lalu) saya mengakhiri tahun di alam dunia maya. Berselancar selama setahun.

Kali ini mungkin saya tak akan berselancar di alam maya, mungkin saya pakai untuk merenung, instropeksi, mawas diri.

Kalau sebelumnya saya selalu menyambut tahun baru dengan sukacita, tidak untuk kali ini. Karena pada galibnya, setiap pertambahan tahun, berati pula berkurang jatah saya dalam mengarungi dunia fana. Ini yang jarang saya sadari.

Apakah saya sudah punya banyak atau cukup bekal untuk menghadap Sang Khalik? Atau sebandingkah hidayah, taufiq dan inayah-Nya dengan pengabdian saya kepada-Nya.

Posted by Informan HP in 4:33 PM No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Label: 2008, 2009, Akhir Tahun, Awal Tahun, Budaya, Indonesia, Ingatan, Iseng, Opini, Rakyat, Refleksi, Sosial, Umum

Friday, December 26, 2008

Tokoh 2008: 10 Kepala Daerah Terbaik Versi TEMPO

Tempo memilih sepuluh bupati dan wali kota sebagai Tokoh 2008. Banyak inovasi dan terobosan. Banyak calon pemimpin yang menjanjikan.

Kriteria yang digunakan adalah: pelayanan publik, transparansi, dan keramahan pada dunia usaha – TEMPO mementingkan proses, lebih dari hasil.

Ada begitu banyak pelajaran dari sepuluh tokoh ini. Yang terpenting, Jakarta perlu percaya bahwa daerah bisa mengurus diri sendiri. Banyak tokoh lokal yang ternyata mampu melahirkan terobosan dan inovasi—yang tak muncul pada masa kepala daerah ”diterjunkan” dari atas. Mereka menolak fenomena klasik birokrasi: korupsi, inefisiensi, bekerja tanpa visi. Sepuluh orang ini menempatkan teladan dan kejujuran di urutan pertama. Mereka percaya, komunikasi yang intens merupakan kunci keberhasilan, bukan komunikasi yang instan. Mereka sabar mendengar rakyat, dan bekerja mencapainya.

Seperti kata Jusuf Serang Kasim, Wali Kota Tarakan, negara kesatuan ini memang harus dibangun dari daerah. Dokter ini pun menyulap Tarakan dari kota sampah menjadi ”Singapura kecil” dalam waktu sepuluh tahun. Sebelum era otonomi, Jusuf mengaku tak ubahnya seorang satpam yang hanya melaksanakan perintah atasan.

Seorang Untung Sarono Wiyono Sukarno dengan kegairahan luar biasa pada teknologi informasi menghubungkan semua desa di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, dengan jaringan Internet. Di tangan pengusaha minyak dan gas itu efisiensi pemerintahan meningkat pesat.

Wali Kota Solo Joko Widodo—yang di daerahnya disapa Jokowi—mendemonstrasikan bagaimana memanusiakan warganya. Ketika harus memindahkan pedagang kaki lima, ia lebih dulu mengundang makan para pelaku sektor informal itu. Ia tak memilih jalan pintas: mengerahkan aparat atau membakar lokasi. ”Setelah makan, ya, saya suruh pulang lagi,” kata Jokowi. Setelah undangan makan yang ke-54, baru ia yakin pedagang siap dipindahkan. Acara pemindahan meriah, lengkap dengan arak-arakan yang diramaikan pasukan keraton. Para pedagang gembira ria, mereka menyediakan tumpeng sendiri.

Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto mendapat julukan ”Wagiman” alias wali kota gila taman. Tapi ia tak peduli. Ia terus berjalan, membeli lahan-lahan kosong hanya untuk taman. Yogya terasa segar, karena taman bertambah dari 9 menjadi 22 hektare.

Bertahun-tahun Lapangan Karebosi di Makassar menjadi milik para waria pada malam hari. Kemudian datanglah wali kota baru, Ilham Arif Sirajuddin, 43 tahun, yang dengan berani mengubah lapangan itu. Ia yakin, warga Makassar perlu lebih banyak ruang terbuka. Ia dilawan, didemo, tapi ia tahu bahwa kepentingan publik nomor satu. Lapangan kumuh dan kerap direndam banjir itu akhirnya menjelma menjadi tempat yang megah tanpa kehilangan label sebagai tempat rendezvous penduduk.

Di Blitar, Jawa Timur, Djarot Saiful Hidayat memulai pekerjaan dengan mereformasi birokrasi yang tambun dan lamban. Dengan begitu, ”Anggaran belanja daerah pasti cukup, asal jangan dikorupsi,” kata penerima berbagai penghargaan di tingkat nasional ini. Ia tak mengganti mobil dinasnya, Toyota Crown tahun 1994, sejak hari pertama menjabat. ”Modal saya hati. Saya ingin warga Blitar maju dan sejahtera,” ujar Djarot, yang sudah dua periode menjabat.

David Bobihoe meruntuhkan pagar rumah dinasnya di Kota Limboto, ibu kota Kabupaten Gorontalo. Pos jaga ia ratakan dengan tanah. Tamu dari mana saja bebas duduk-duduk di teras rumah, tanpa terhadang aturan protokol ketat. Dia rajin berkeliling daerah, mendengar kemauan orang banyak. Ia sukses mengajak rakyat membangun, menanam jagung, dan mengekspor hasilnya.

Bupati Badung, Bali, Anak Agung Gde Agung, punya masalah berat: ekonomi penduduk timpang. Di daerah selatan, Kuta dan sekitarnya, masyarakat makmur karena pariwisata. Tapi petani di utara miskin. Sekolah pertanian ia bangun. Agrobisnis dikembangkan. Ia berhasil. Badung sekarang sanggup menyumbangkan sebagian pendapatan untuk enam kabupaten lain di Bali.

Nun jauh di Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Bupati Andi Hatta Marakarma menghadapi daerah pemekaran dengan potensi bagus tapi miskin prasarana. Ia membangun desa, termasuk jalan, dan membiarkan kantornya sangat sederhana. Resepnya jitu. Ekonomi rakyat berkembang. ”Dulu ongkos angkut satu karung gabah Rp 9.000, sekarang hanya Rp 2.000,” kata salah seorang ketua kelompok tani di Luwu.

Bupati Jombang Suyanto mengundang dokter-dokter spesialis berpraktek di puskesmas. Protes datang dari instansi kesehatan karena ia dinilai melecehkan dokter spesialis. Ia jalan terus dan sekarang puskesmas menyandang tingkatan ISO. Ia juga menggratiskan sekolah sampai sekolah lanjutan atas. ”Pemimpin itu tak perlu cerdas sekali. Yang penting lurus hati, mulai berpikir sampai berbuat,” ujar bupati yang mengaku hanya menghabiskan Rp 40 juta untuk pemilihan kepala daerah itu.

Di antara miskinnya stok pemimpin di tingkat nasional, otonomi daerah terbukti sudah memunculkan talenta-talenta baik, muda, kreatif, dan tahu benar cara memikat hati rakyat. Mereka tidak hanya berasal dari birokrasi, tapi juga datang dari kalangan pengusaha atau pendidik. Mereka lahirkan kejutan yang asyik. Satu yang membanggakan: mereka tidak terkena virus korupsi.

Kami yakin, masih banyak lagi tokoh berprestasi yang luput dari radar kami.Tapi 10 Tokoh Tempo 2008 ini agaknya mewakili satu kenyataan: masih banyak orang yang bekerja dengan hati, untuk Indonesia yang lebih baik.

Lebih jauh, bisa klik di bawah ini:

  • JUSUF SERANG KASIM, WALI KOTA TARAKAN
    Mimpi Melahirkan Singa Kecil

  • HERRY ZUDIANTO, WALI KOTA YOGYAKARTA
    Menata dari yang Sederhana

  • DAVID BOBIHOE AKIB, BUPATI GORONTALO
    Khayal dari Tepian Limboto

  • ANDI HATTA MARAKARMA, BUPATI LUWU TIMUR
    Sebuah Lumbung Nun di Timur

  • SUYANTO, BUPATI JOMBANG
    Ada Tenggat di Alun-Alun

  • A.A. GDE AGUNG, BUPATI BADUNG
    Agar Seimbang Selatan-Utara

  • JOKO WIDODO, WALI KOTA SURAKARTA
    Wali Kaki Lima

  • UNTUNG SARONO WIYONO SUKARNO, WALI KOTA SRAGEN
    Dalang kota Digital

  • ILHAM ARIF SIRAJUDDIN, WALI KOTA MAKASSAR
    Cerita dari Pantai Cinta

  • DJAROT SAIFUL HIDAYAT, WALI KOTA BLITAR
    Dengan Belimbing dan Kendang Jimbe

Posted by Informan HP in 2:55 AM No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Label: Berita, Budaya, Bupati, Ekonomi, Hukum, Indonesia, Opini, Orde Reformasi, Politik, Rakyat, Refleksi, Top 2008, Walikota

Thursday, December 25, 2008

Baliho Anti-Orang Kidal

Untung saya bukan menjadi penduduk Kota Depok. Kalau saya menjadi warga pak Nurmahmudi, tentu akan rikuh bila diundang makan bersama dengan para pejabat di sana (lagipula siapa yang bakal mengundang saya?) apa pasal?

Dalam Majalah Tempo (rubrik Indonesiana) Edisi 42?XXXVII/8 Desember 2008, ada tulisan yang berjudul Baliho Anti-Orang Kidal. Isinya antara lain: MEREKA yang kidal tentu mengernyitkan dahi melihat baliho ukuran besar bergambar Nurmahmudi Ismail, Wali Kota Depok, itu. ”Kembalilah ke Jati Diri Bangsa, Makan dan Minumlah dengan Tangan Kanan”. Begitulah tulisan di baliho disertai foto Pak Wali beserta perwakilan masyarakat, seperti pasukan pengibar bendera pusaka, Pramuka, abang-none, dan veteran.

Jumlah baliho yang ditebarkan di sepanjang jalan Depok mencapai puluhan buah. Apa penyebab Pak Wali demen berkampanye soal makan dengan tangan kanan? ”Saya sering menemukan pejabat atau warga yang makan dengan tangan kiri,” kata Nur kepada Tempo. Ia mengaku sudah menegur. Entah mengapa, Nur merasa masih kurang sreg, lantas baliho pun ia sebar.

Namun kampanye ini justru mengundang komentar miring dari warga. Asni, warga Depok II, kesal bukan kepalang. ”Basi banget, sih. Kita semua sudah tahu kalau makan pakai tangan kanan,” ungkapnya ketus. Ketimbang mengurusi soal tangan mana yang digunakan untuk makan, Asni justru mengajukan usul lain. ”Kalau ada larangan kencing sembarangan di Terminal Depok, itu baru oye,” katanya sembari terkekeh. Maklum, bau pesing di terminal itu, menurut Asni, bisa bikin orang pingsan.

Sedangkan bagi Lia, warga Depok Lama, soal baliho ini tak lagi mengherankan. ”Pak Nur kan wali kota baliho,” katanya enteng. Maklum, bukan sekali ini saja Nur menyebarkan baliho. Sebelum soal tangan kanan, ia sempat melempar wacana makan belimbing. Padahal, menurut Lia, mencari belimbing enggak gampang-gampang amat. ”Harganya juga mahal,” ujarnya mengeluh. Kampanye makan belimbing itu pun sembari menebarkan wajah penuh senyum Pak Wali.

Maka tak aneh bila Okta, warga Sawangan, menuding baliho itu hanya upaya Pak Wali menjaga citra. ”Masih banyak masalah Depok yang mesti diselesaikan, dari jalan macet sampai jalan rusak. Tolong itu jadi prioritas,” ujarnya. Belum diketahui bagaimana komentar orang bertangan kidal, yang sehari-hari menggunakan tangan kiri untuk makan. Lalu bagaimana pula kalau atlet bulu tangkis yang kidal? Apa cuma makan saja harus pakai ”tangan manis”?

Lagi pula, anak saya yang bungsu juga kidal seperti saya. Semua dilakukan dengan tangan kiri – kecuali kalau salim.

Posted by Informan HP in 4:05 PM No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Label: Anak, Ayah, Baliho, Berita, Budaya, Depok, Indonesia, Ingatan, Iseng, Keluarga, Kidal, Opini, Orde Reformasi, Pendidikan, Pengumuman, Peraturan, Politik, Rakyat, Refleksi

Pemilu 2009: Tak Lagi Memilih Kucing Dalam Karung

Mahkamah Konstitusi (MK) kembali membuat kejutan. Setelah memerintahkan pemungutan suara ulang dalam Pilkada Jatim, kini MK menghapuskan sistem nomor urut untuk menentukan siapa duduk di kursi DPR dan DPRD.

Keputusan MK soal Pasal 214 Huruf a, b, c, d, e UU Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilu DPR, DPD dan DPRD dibacakan di Gedung MK Jakarta, Selasa (23/12/2008). Dengan demikian, sistem suara terbanyak akan menjadi rujukan Komisi Pemilihan Umum (KPU) dalam menentukan pemenang pemilu legislatif.

mahfud_mdMajelas hakim yang dipimpin Ketua MK Mahfud MD menilai pasal tersebut hanya menguntungkan caleg yang duduk di nomor urut terkecil dan sebaliknya merugikan caleg nomor urut besar. Sebab, caleg dengan nomor urut besar harus bekerja sangat keras untuk memperoleh suara 30 persen atau lebih.

Kalau pun akhirnya caleg dengan nomor urut besar bisa meraih suara 30 persen atau lebih, dia belum tentu bisa mendapatkan kursi di DPR/DPRD kalau caleg dengan nomor urut kecil juga mendapatkan jumlah suara yang sama.

“Menurut mahkamah, Pasal 214 Huruf a, b, c, d, e yang menentukan pemenang adakah yang memiliki suara di atas 30 persen dan menduduki nomor urut lebih kecil adalah inkonstitusional, bertentangan dengan kedaulatan rakyat sebagaimana diatur dalam UUD 1945,” tutur Hakim Konstitusional Arsyad Sanusi.

Fasal ini dinilai tidak adil karena mengandung standar ganda yang memaksakan pemberlakuan hokum yang berbeda dalam kondisi yang sama. Menurut MK, partai politik harus dibatasi dalam menentukan caleg, yaitu tidak boleh melanggar prinsip kedaulatan rakyat.

MK juga menegaskan, penghapusan itu tidak berarti ada kekosongan hokum. Walaupun tanpa revisi UU maupun pembentukan peraturan pemerintah, keputusan MK berlaku sebagai hukum.

Dalam kesempatan yang sama, MK juga memutuskan tetap mempertahankan DPR, DPD dan DPRD, serta memutuskan untuk mempertahankan ketentuan kuota perempuan 30 persen dan zipper system yang mengharuskan terdapat sekurang-kurangnya satu perempuan bakal calon pada setiap tiga orang di daftar bakal calon, seperti yang diatur dalam Pasal 55 Ayat (2) UU Pemilu. (MK Hapus Sistem Nomor Urut - Harian Surya)

Dengan keputusan ini memang siapa yang pantas duduk di kursi DPR dan DPRD adalah murni jumlah suara rakyat. Bukan ditentukan oleh otoritas partai. Kalau sebelumnya kita memilih caleg ibarat memilih kucing dalam karung, tak tahu kucing garong atau kucing angora.

Namun masalahnya sekarang bergeser di aras bawah. Bagi yang berkantong tebal, niscaya bakal mempunyai peluang yang lebih besar ketimbang calon yang hanya berbekal visi dan misi. Karena rakyat sekarang (masih) butuh nasi. Bukan visi atau misi.

Yakin, akan banyak uang (asli maupun – hati-hati – palsu, yang beredar di segenap penjuru Nusantara.

Posted by Informan HP in 3:36 AM No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Label: Berita, Hukum, Indonesia, Mahkamah Konstitusi, Opini, Orde Reformasi, Pemilu, Politik, Rakyat, Refleksi

Sunday, December 21, 2008

Situs Yang Sudah Mengumumkan Hasil Test CPNS Jatim 2008

Sampai dengan hari ini berikut situs-situs pemkot dan pemkab yang sudah menampilkan hasil test CPNS Tahun 2008 khususnya untuk wilayah Jawa Timur:

  1. Madiun http://www.madiunkota.go.id
  2. Madiun http://www.madiunkab.go.id
  3. Pacitan http://www.pacitan.go.id
  4. Ngawi http://www.ngawikab.go.id/website/
  5. Kediri http://www.kotakediri.go.id
  6. Kediri http://www.kedirikab.com/
  7. Blitar http://www.blitar.go.id
  8. Blitar http://www.kabblitar.go.id
  9. Malang http://www.pemkot-malang.go.id
  10. Malang http://www.malangkab.go.id
  11. Batu http://www.pemkotbatu.go.id
  12. Lamongan http://www.lamongan.go.id
  13. Surabaya http://www.surabaya.go.id
  14. Mojokerto http://www.mojokertokota.go.id
  15. Gresik http://www.gresik.go.id
  16. Sumenep http://www.sumenep.go.id
Catatan: untuk kabupaten nganjuk katanya bakal diumumkan tanggal 20 Desember 2008 kemarin. Namun hari ini, di stusnya belum ada kabar beritanya. Yang lain, ada yang situsnya nggak bisa dibuka, ada yang masih dalam taraf pembenahan, dll. dll.
Posted by Informan HP in 8:11 PM No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Label: Berita, CPNS, Indonesia, Jatim, Jawa Timur, Pegawai Negeri, Pemkab, Pengumuman, Rakyat, Situs, Situs Pemkot, Umum

Saturday, December 20, 2008

Yang Lulus Test Tulis CPNS Malang Raya



Lewat Pengumuman Nomor 6 Tahun 2008 tentang Hasil Ujian Penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil Pemerintah Kota Malang Tahun 2008, Walikota Malang menyampaikan bahwa Peserta Ujian Penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil Pemerintah Kota Malang Tahun Anggaran 2008 yang dinyatakan LULUS adalah sebagaimana daftar nama terlampir. (klik lewat sini bila ingin melihat lampirannya).

Lantas untuk Hasil Ujian Penerimaan CPNS Kabupaten Malang bisa diteropong lewat jalur ini, serta untuk Kota Batu bisa download di sini.

Pesan saya, kalau lulus jangan jumawa dan kalau lolos, jangan pula kecewa.

Posted by Informan HP in 3:02 AM No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Label: Berita, Hasil Tes, Indonesia, Malang Raya, Opini, Pegawai Negeri, Rakyat, Refleksi

Thursday, December 18, 2008

Kisah Tentang “Sepatu Bush”

Sepasang sepatu yang dipakai wartawan Irak, Muntazer al_Zahdi, untuk melempari Presiden George W. Bush, mulai menjadi incaran orang-orang kaya Timur Tengah.

Awalnya adalah Adnan Ahmad, direktur teknik kesebelasan nasional Irak, yang berani membeli itu sepatu seharga 100.000 dollar AS (Rp 1,1 milyar). Katanya, nilai itu sepadan dengan keberanian yang ditunjukkan Zaidi yang dianggap mewakili sikap warga Irak.

Namun, selang sehari, tawaran lain – yang lebih fantastis – datang dari seorang pengusaha negeri itu (yang masih dirahasiakan identitasnya). Bayangkan, sepatu yang mungkin awalnya dibeli wartawan itu – paling tidak harganya sekitar Rp 50.000, kini harganya menjadi 20 juta dolar AS (Rp 220 Milyar).

Siapa yang bakal kaya dari sepatu itu belum jelas, karena keberadaannya juga tidak diketahui sampai kini. Ada spekulasi bahwa sepatu itu kini disita aparat keamanan Irak atau dibawa pejabat pemerintahan Bush. Salah satu harian Irak melaporkan, kalau Zaidi terbukti tidak bersalah maka sepatu itu akan dikembalikan.
Selain tawaran-tawaran yang menggiurkan itu, muncul pula dukungan dalam bentuk lain.

Putri pemimpin Libya Muammar Khadafi, Aicha, mengatakan, lembaga sosialnya akan memberikan penghargaan berupa medali keberanian. “Aksi itu merupakan kemenangan bagi hak asasi manusia,” katanya.

Lalu, di Afganistan, Zang-i-Khatar, acara komedi, merekonstruksikan adegan pelemparan sepatu itu. Namun kali ini Bush benar-benar kena.

Di Inggris , peristiwa itu mengilhami munculnya game komputer Sock and Awe. Game yang mempelesetkan sifat serbuan AS ke Irak. Game ini menggunakan Bush sebagai sasaran.

Sidang atas kejadian itu sudah digelar hari ini di Green Zone, markas militer AS dan pusat pemerintahan Irak di Bagdad – tanpa kehadiran di terdakwa. Karena Zaidi saat ini masih dirawat di Rumah Sakit Ibn Zina yang dikelola AS di Green Zone. Muntazer al-Zaidi mengalami patah tangan dan tulang rusuk serta luka di wajah dan kaki akibat dipukul aparat keamanan Irak. (‘Sepatu Bush’ Ditawar Rp 220 M, Di Afdanistan Lemparan Jadi Kena - Suryalive)

Stories about "Bush Shoes"

A pair of shoes that used Iraqi journalists, Muntazer al-Zahdi, to pelt President George W. Bush, who began a

searching richman of Middle East.

Adnan Ahmad is the beginning, technical director of the Iraqi national eleven, who dare to buy the shoes worth 100,000 U.S. dollars (Rp 1,1 billion). Meanwhile, the value is commensurate with the courage shown Furthermore, which is considered to represent the attitudes of citizens of Iraq.

However, the lapse day, another bid - the more fantastic - come from a country that the businessmen (who are still concealed identity). Imagine, shoes, which may initially purchased the journalists - most do not price around Rp 500,000, now is the price to 20 million U.S. dollars (Rp 220 billion).

Who is the candidate of the rich shoe is not yet clear, because its existence was not known until now. There is speculation that the shoe is now a security officer be brought Iraq or Bush administration officials. One of Iraq's daily report, if proven not guilty Furthermore, the shoes will be returned. Besides bid-bid, which arouse it, also appear in other forms of support.

Daughter of Libyan leader Mu`ammar Khadafi, Aicha, say, social institutions will award a medal to give courage. "Action is a victory for human rights," he said.

Then, in Afghanistan, Zang-i-Khatar, a comedy, reconstruction of throwing shoes that scene. However, this time Bush really be.

In Britain, events that inspire the emergence of computer games Sock and Awe. Mempelesetkan nature of the game to the U.S. invasion of Iraq. Bush is using the Games as a target.

The Council of the event is held today in the Green Zone, U.S. military headquarters and the central government of Iraq in Baghdad - without the presence of the accused. Furthermore because the current is still being treated in hospital, Ibn Zina managed by the U.S. in the Green Zone. Furthermore Muntazer al-experienced broken hand and rib injuries in the face and legs and beaten as a result of the Iraqi security officials. (translate from ‘Sepatu Bush’ Ditawar Rp 220 M, Di Afdanistan Lemparan Jadi Kena - Suryalive)

Posted by Informan HP in 10:16 PM No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Label: Anak, Ayah, Berita, Budaya, Bush, Hukum, Irak, Islam, Kandidat Presiden USA, Keluarga, Opini, Pahlawan, Politik, Rakyat, Refleksi, Sepatu, Zaidi

Sunday, August 24, 2008

Menjadi Tamu Presiden: Kebanggaan yang Berujung Kesengsaraan

Siapapun pasti akan merasa terhormat manakala mendapat undangan untuk bisa bertemu dengan Presiden di Istana Negara. Namun, kita mesti perlu waspada dan perlu bekal yang cukup sebelum kita memutuskan untuk hadir. Karena, tanpa persiapan dan bekal yang cukup, kita bisa 'kapiran' di sana. Contohnya, seperti yang diberitakan Harian Surya Online berikut ini:

Sebanyak 30 orang penari asal NTT (Nusa Tenggara Timur) yang tampil di acara 17 Agustus-an di Istana Negara telantar nasibnya. Nasib serupa juga dialami oleh Yuni Veronika, 11, peraih medali emas kejuaraan dunia catur pelajar asal Riau.

Para penari dan Yuni tidak bisa pulang ke daerahnya masing-masing, usai mengikuti acara silahturahmi dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terkait perayaan 17-an.
Para penari yang masih duduk di bangku SMA tidak bisa pulang ke kampong halamannya di Kota Lewoleba, Kabupaten Lembata, Provinsi NTT, karena ditinggal pergi oleh ketua panitia dan pimpinan kelompok.

Saat ini sebagian penari itu mengungsi di rumah seorang warga asal NTT di Jakarta, Dominik Walleng, di Kramatjati, Jakarta Timur.Sebagian lagi ditampung di rumah Ketua RT 10/04 Kramatjati, Suparman.

"Rabu pagi (20/8) lalu, Kepala Dinas P dan K Kabupaten Lembata, yaitu Pak Martin, Didi Lejak sebagai manajer keuangan, dan Madjid Lamahoda, pimpinan kelompok, tanpa sepengetahuan anak-anak langsung pergi dari tempat penginapan. Mereka tidak mau bertanggungjawab, bahkan mereka membawa sisa uang penginapan," ucap Dominik Walleng, yang ditemui di rumahnya Kamis (21/8) sore.

Para penari asal NTT ini mulai menginap di Graha Wisata Remaja TMII (Taman Mini Indonesia Indah) sejak tanggal 16 Agustus, sehari sebelum 17-an.

Namun karena ditinggal kabur pimpinan rombongan yang membawa uang sewa penginapan, pihak pengelola Graha Wisata Remaja mengusir mereka setelah beberapa hari diberi kesempatan bertahan di penginapan itu.
"Harusnya sesuai rencana, anak-anak menginap sampai 10 hari dari tanggal 16 hingga 26 Agustus," ucap Dominik.

Sementara itu, Yuni mengaku kapok untuk menghadiri acara 17-an di Istana Negara setelah pengalaman buruk ini. Peraih medali emas dan perunggu kejuaran catur dunia tingkat pelajar tahun 2008 ini sebetulnya merasa terhormat dan senang bertemu dengan Presiden. “Tapi, jika jadi terlantar seperti ini, saya kapok," kata Yuni, Kamis (21/8) siang.

Berbeda dengan para penari NTT, Yuli dan bapaknya Sudirman kehabisan dana karena pihak pengundang, yaitu Depdiknas, tak mau mengganti biaya untuk Sudirman.
“Masak saya harus ke Jakarta sendirian. Kan tak mungkin,” kata Yuli.

Untungnya, pada berita berjalan yang ada di tvOne tadi sore, kabarnya mereka sudah menerima uang transport pulang.
Posted by Informan HP in 3:24 AM No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Label: Berita, Budaya, Indonesia, Iseng, Keluarga, Opini, Rakyat, Refleksi, Tamu Negara, Umum

Sunday, August 17, 2008

Setelah 63 Tahun Kita Merdeka

Jangan mencita-citakan adanya pemimpin-pahlawan bangsa Indonesia, melainkan kehendakilah adanya pahlawan-pahlawan yang tak punya nama. (Bung Hatta)

Hari Kamis Malam Jum’at Legi, pada saat bulan Ramadhan, 63 tahun yang lalu, sekelompok pemuda "menculik" Bung Karno untuk kemudian didesak agar memproklamirkan Indonesia sebagai Negara. Setelah melalui perdebatan yang sengit, akhirnya Bung Karno pun menyetujuinya. Sehingga esoknya, pukul 10 pagi, Indonesia menyatakan kemerdekaannya.

Tadi Malam, Sabtu, segenap penduduk Indonesia, tua muda, pada berkelompok, berkumpul pada setiap RT atau RW, pada bartasyakur demi mengenang jasa-jasa para pejuang kemerdekaan kita. Ada yang dalam bentuk tahlilan, ada yang membacakan riwayat para pejuang (baik lokal maupun nasional) dan sebagainya.

Para pejuang kita dulu merebut kemerdekaan dari tangan penjajah demi untuk sebuah cita-cita yang luhur. Merdeka untuk semua. Merdeka untuk segenap rakyat Indonesia.

Pada awal-awal kemerdekaan, karena Bung Karno tidak mau dibantu (untuk kemudian didikte) oleh pihak asing, maka katanya: go to hell with your aid. Sehingga, demi semangat berdikari, pernah terjadi pemotongan uang, dari seribu rupiah menjadi serupiah. Meski melarat yang penting merdeka.

Pada zaman orde baru, Bapak Pembangunan Indonesia, Soeharto, mencoba memanjakan rakyat Indonesia. Semua bahan pokok pun disubsidi, sambil juga tidak lupa untuk mensubsidi keluarga beserta kroninya.
Rakyat Jelata tersenyum karena bisa membeli bahan pokok dengan murah. Rakyat Elite pun tersenyum karena memperoleh kucuran dana yang alangkah banyaknya. Yang menangis mungkin bumi pertiwi, karena kekayaan yang terkandung di dalamnya hanya sebagian kecil saja yang bisa dinikmati rakyat jelata. Sementara yang lain dikorupsi.

Pada zaman orde (ter)baru, subsidi pada dicabut. Sementara kegiatan korupsi tidak ikut (otomatis) dicabut. Karena memang sulit untuk mencari bukti-bukti formal, seperti yang diminta oleh Undang-Undang Anti Korupsi.

Intinya, kita betul telah merdeka selama 63 tahun. Namun sejatinya, kita rakyat jelata diam-diam ternyata masih dalam masa penjajahan. Ibaratnya keluar dari mulut singa tapi masuk ke mulut buaya.

[ Tulisan ini setahun yang lalu saya tulis di sini; Gambar diambil dari sini, yang merupakan Ruang tamu rumah persembunyian Bung Karno di Rengasdengklok. ]
Posted by Informan HP in 3:29 AM No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Label: 16 Agustus, Indonesia, Merdeka, Opini, Orde Baru, Orde Lama, Orde Reformasi, Pahlawan, Rakyat, Refleksi

Sukarni dan Penculikan Soekarno - Hatta

Andai sekelompok pemuda dibawah pimpinan tidak memaksa Soekarno-Hatta untuk segera merdeka, entah bagaimana arah perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Apakah lebih baik atau lebih buruk dari sekarang.

Penculikan Soekarno-Hatta

Mendengar berita kekalahan Jepang, kelompok pemuda dengan kelompok bawah tanah pimpinan Sutan Syahrir, bersepakat bahwa inilah saat yang tepat untuk memproklamirkan kemerdekaan. Sukarni, Wikana dan kelompok pemuda lainnya mendesak Soekarno dan Hatta, tapi mereka berdua menolak. Terjadi perdebatan sengit. Akhirnya, dengan tujuan menjauhkan Soekarno-Hatta dari “pengaruh” Jepang, kedua pemimpin itu “diculik” ke Rengasdengklok oleh kelompok pemuda dengan pimpinan Sukarni.

Untunglah semua pihak kemudian bersepakat bahwa proklamasi kemerdekaan dilakukan pada 17 Agustus 1945 dan itulah yang terjadi. Selanjutnya, Sukarni bekerja mengemban amanat kemerdekaan, bahu-membahu bersama kelompok pemuda lainnya. Sukarni membentuk Comite Van Aksi (semacam panitia gerak cepat) pada 18 Agustus 1945 yang tugasnya menyebarkan kabar kemerdekaan ke seluruh Indonesia. Khusus untuk para pemudanya dibentuk API (Angkatan Pemuda Indonesia) dan untuk buruh dibentuk BBI (Barisan Buruh Indonesia) yang kemudian melahirkan laskar buruh dan laskar buruh wanita.

Di zaman RI Yogya, Sukarni menjabat sekretaris Jenderal Persatuan Perjuangan (PP) di bawah ketua Tan Malaka. PP beroposisi dengan pemerintah dan menolak perundingan pemerintah terhadap Belanda. Aksi PP ini membuat Sukarni dijebloskan ke penjara tahun 1946. Selanjutnya Sukarni juga mengalami penahanan di Solo, Madiun, Ponorogo (daerah komunis Muso) di masa pemerintahan Amir Syarifudin (1947/1948)

[sumber: Wikipedia]




Posted by Informan HP in 1:29 AM No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Label: Berita, Indonesia, Islam, Opini, Rakyat, Refleksi

Friday, June 27, 2008

Dapatkan Rp 50.000.000, Segera!

Pasang banner KapanLagi.com di Situs/Blog/Friendster kamu, dan dapatkan hadiah Rp. 50.000.000,- untuk 10 (sepuluh) Friends beruntung yang akan diundi tanggal 20 Desember 2008.
Buruan!!! Gratis koq, gak dipungut biaya sepeserpun. Syarat dan Ketentuan berlaku.
KLIK DI SINI UNTUK CARA MENAMPILKAN BANNER.

Syarat dan Ketentuan

  1. Kode tidak boleh diubah, harus tetap sama 100%.
  2. Pastikan di situs Anda tercantum alamat email yang bisa dihubungi, kami akan menghubungi Anda apabila Anda keluar sebagai pemenang.
  3. Pemenang akan dihubungi via email.
  4. Tidak dikenakan biaya apapun.
  5. Apabila ada pertanyaan hubungi: editor@kapanlagi.net
Posted by Informan HP in 1:38 AM No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Label: Berita, Indonesia, Iseng, Rakyat, Umum

Saturday, May 31, 2008

BLT = Bikin Lonjakan Temperamen

Kemarin Wapres juga mengatakan kepada Kompas dana bantuan langsung tunai (BLT) adalah hak bagi masyarakat miskin. Hak itu, kata Wapres, bisa diterima atau ditolak oleh yang bersangkutan.

”Tapi, bila ada orang lain yang menghalangi atau melarang orang miskin itu untuk menerima BLT adalah suatu pelanggaran konstitusi,” tegas Wapres.

Menurut Wapres, pemberian dana BLT adalah kewajiban pemerintah untuk menjalankan perintah konstitusi. ”Menurut konstitusi, orang miskin harus disantuni. Bila pemerintah melakukan itu, tidak bisa dilarang,” ujarnya.

Memang, Pasal 34 UUD 1945 mengatakan bahwa: Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.

Tapi soalnya adalah, apakah akibat kenaikan harga BBM dan 'hanya' dengan BLT, maka fakir miskin dan anak terlantar menjadi terkurangi? Apa bukan malah menambah jumlahnya?

Yang pasti, keberadaan BLT, bikin susah semua pihak. Diberitakan oleh KOMPAS bahwa: Seumur kariernya di PT Pos Indonesia, baru kali ini Salastri Sugiharti merasa jantungnya hampir copot. Selasa (27/5) pagi itu, Salastri selaku Koordinator Lapangan Bantuan Langsung Tunai Kantor Pos Pejompongan, Jakarta Pusat, dimaki-maki oleh seorang pria penerima BLT. Selain diancam akan diadukan ke polisi, laki-laki itu juga mengeluarkan kata-kata kotor.

Bagi warga yang beruntung menerima BLT, lanjut KOMPAS, seperti Kusnadiyanto (57), bantuan dari pemerintah itu tidak serta-merta meringankan beban hidup mereka. Menurut Kusnadiyanto, uang sebesar Rp 300.000—bantuan pemerintah selama tiga bulan—itu akan digunakan sebagai tambahan modal berjualan nasi di belakang Hotel Shangri-La.

”Sebenarnya kalau boleh milih, lebih baik enggak terima BLT, tapi harga BBM enggak naik deh. Soalnya sekarang kenaikan ongkos transportasi dan harga bahan pokok tinggi banget,” katanya.

Tak heran bila banyak Pak Lurah atau Kepala Desa berteriak menolaknya. Bukannya mau menghalangi atau melarang orang miskin itu untuk menerima BLT. Soalnya mereka pasti banyak terkena getahnya ketimbang makan nangkanya.

Teman saya, gara-gara mengurus BLT (tahun 2005) terpaksa harus mengundurkan diri dari Ketua RT, karena hampir setiap hari ia kedatangan warganya yang protes karena tidak menerima BLT. Katanya, ia telah mendata 50 orang, ternyata yang turun hanya untuk 12 orang.


Posted by Informan HP in 1:02 AM No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Label: Berita, BLT, Ekonomi, Indonesia, Keluarga, Korupsi, Opini, Orde Reformasi, Politik, Rakyat, Refleksi, Umum | Tagged BBM

Thursday, May 29, 2008

APBN untuk Rakyat atau untuk Birokrat dan Wakil Rakyat?

DI negeri ini para pemilik mobil adalah kaum beruntung. Bayangkan, tercatat tak sampai 8 juta mobil pribadi berseliweran di negara berpenduduk 230 juta ini. Walhasil, karena cukup banyak keluarga yang memiliki lebih dari satu mobil, cukup aman untuk menduga bahwa pemilik kendaraan roda empat ini adalah kelompok sepuluh persen rakyat Indonesia terkaya. Mereka berada di ujung atas tingkat kesejahteraan.

Di ujung yang lain hidup sekitar 20 juta keluarga termiskin bangsa ini dengan pendapatan di bawah US$ 2 sehari. Mereka jelas masuk kelompok fakir miskin, yang menurut konstitusi harus dientaskan dari kepapaannya oleh pemerintah.

Tapi apa yang selama ini dilakukan pemerintah?

Gara-gara kenaikan harga minyak dunia yang gila-gilaan belakangan ini, sebagian besar dana pengeluaran pemerintah ternyata dipakai untuk mensubsidi bahan bakar minyak, yang tahun ini diperkirakan mencapai 132 triliun. Ini berarti lebih dari empat kali lipat belanja untuk Departemen Pendidikan, lembaga pemerintah yang anggarannya paling besar.

Lantas siapa saja penikmat subsidi ini? Menteri Keuangan Sri Mulyani memperkirakan 70 persen dari jumlah itu dinikmati para pemilik mobil. Untuk setiap kendaraan beroda empat, pemerintah memberikan subsidi rata-rata sejuta rupiah sebulan. Artinya, keluarga kaya yang memiliki empat mobil akan menerima derma pemerintah Rp 4 juta sebulan. Bandingkanlah nasib kalangan beruntung itu dengan keluarga termiskin di negeri ini, yang hanya menerima bantuan Rp 100 ribu sebulan, itu pun diterima tiga bulan sekali. (MBM Tempo Online, Cabut Subsidi Mobil Pribadi).

Jika pemerintah menyatakan bahwa subsidi BBM kebanyakan dinikmati oleh rakyat kaya, pemerintah keliru. Subsidi BBM adalah ibarat oli dalam mesin pertumbuhan ekonomi, terutama untuk usaha mikro kecil menengah (UMKM). Jika pemerintah tidak mampu memberi stimulus pertumbuhan ekonomi yang lain, mencabut subsidi BBM ibarat mengambil napas hidup lebih dari 100 juta rakyat Indonesia.

Jumlah UMKM di Indonesia mencapai 48 juta unit dan sebagian besar bergantung pada BBM. Begitu juga dampak bagi nelayan, yang 60 persen biaya produksinya berasal dari BBM. Jumlah nelayan di Indonesia mencapai 3,4 juta orang (Statistik Perikanan 2004). Jika dihitung dengan jumlah orang yang bergantung pada jenis usaha ini (UMKM dan nelayan, asumsi 3 orang per unit), ada sekitar 150 juta manusia yang menggantungkan nafkah hidupnya pada subsidi BBM secara langsung. Ibarat manusia yang telah sesak napas akibat kenaikan bahan pangan dunia yang tinggi, kenaikan harga BBM akan membuat rakyat semakin tersengal-sengal.

Berkaitan dengan defisit APBN yang dialami oleh pemerintah, yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah keberadaan anggaran yang cukup bagi pemerintah dapat membuat pemerintah cukup efisien dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat? Apakah cukup dengan BLT yang nilai dan cakupannya tidak seberapa dan hanya berlaku tidak sampai setahun? Atau dengan anggaran kesehatan di APBN yang persentasenya masih jauh di bawah negara-negara ASEAN lain? Atau amanat anggaran pendidikan di dalam konstitusi yang mencapai 20 persen yang cuma utopis? Itu baru alokasi, belum tingkat efisiensi anggaran yang benar-benar sampai ke rakyat.

Lamban dan korup

Sekadar untuk mengingat kembali tahun 2005, ketika pemerintah baru menaikkan harga BBM sebanyak dua kali (128 persen), tidak lama setelah itu (2006) DPR mengajukan kenaikan gaji yang tidak tanggung-tanggung, yaitu sebesar 40-60 persen. Dari take home pay sebesar Rp 25 juta menjadi Rp 35 juta-Rp 40 juta, sementara untuk pimpinan DPR mencapai Rp 60 juta-Rp 70 juta. Total penambahan gaji anggota DPR ketika itu mencapai Rp 200 miliar. Kenaikan gaji tersebut tentu saja sangat melukai nurani keadilan rakyat. Namun, program tersebut jalan terus, dengan alasan untuk meningkatkan efisiensi fungsi DPR. Kenyataannya, setelah beberapa anggota DPR ditangkap oleh KPK, DPR terbukti masih tidak efisien dan tidak mampu menunjukkan kepedulian kepada rakyat.

Begitu juga dengan lembaga eksekutif. Kenaikan gaji PNS yang mencapai 20 persen (di beberapa direktorat Departemen Keuangan kenaikan mencapai hampir 400 persen, lihat situs depkeu.go.id) apakah dapat mengefisienkan fungsi pemerintah dalam pelayanan publik sehingga ujung-ujungnya dapat menstimulus pertumbuhan ekonomi? Kenyataan menunjukkan bahwa mesin birokrasi yang diberi subsidi dana pajak dari rakyat (APBN) masih merupakan mesin yang terlalu gemuk, lamban, dan korup.

Hal ini terbukti dari tingkat kebocoran anggaran dalam pengadaan barang dan jasa yang disebut oleh KPK mencapai 30 persen. Anggaran belanja pengadaan barang dan jasa pemerintah di dalam APBN mencapai Rp 600 triliun, dan jika kebocoran dapat disetop, penghematan dapat mencapai Rp 150 triliun (sumber hukumonline.com, 1/11/2007). Nilai itu hampir setara dengan subsidi BBM yang diberikan pemerintah untuk rakyat.

Begitu juga efisiensi dalam penegakan hukum. Dana koruptor BLBI yang mencapai ratusan triliun rupiah bisa raib begitu saja. (KOMPAS, APBN untuk Siapa?)

Tapi nasih sudah menjadi bubur. Bagaimana lagi...........

Menurut TEMPO, sebenarnya nasi sebenarnya belum jadi bubur. Kenaikan harga minyak dunia masih terus meroket dan anggaran pemerintah hanya aman untuk sementara. Majalah ini berharap, waktu jeda yang tersedia setelah kenaikan harga bahan bakar minyak dimanfaatkan sebaik mungkin. Pilihan kebijakan tentang harga minyak tak boleh lagi semata-mata demi menyelamatkan neraca anggaran pemerintah, tapi harus bertumpu pada sisi keadilan belanja uang negara. Itu sebabnya persiapan mencabut subsidi bahan bakar minyak bagi para pemilik kendaraan bermotor pribadi harus dilakukan dan diterapkan pada waktu yang tepat.

Posted by Informan HP in 1:47 AM No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Label: BBM, Birokrat, Rakyat

Saturday, May 17, 2008

Thomas Lepas, Uber Miber

"Saya egois." Kata-kata tegas itu meluncur dari bibir tunggal kedua Indonesia, Adriyanti Firdasari, yang dibasahi peluh seusai menghajar tunggal kedua Jerman, Julianne Schenk, pada laga semifinal, Kamis (15/5) malam.

Egoisme Firda adalah untuk memenangi setiap pertandingan yang dilaluinya. Perenggut gelar juara Selandia Baru Terbuka pada 2005 silam itu mengaku, keinginannya untuk menang mengalahkan segalanya. ”Saya bermain buat diri saya sendiri,” tegas dara kelahiran Jakarta, 16 Desember 1986 itu.

Kata Firda, egoisme seperti itu tidaklah buruk. Malah sangat diperlukan bagi tim. ”Otomatis, kalau saya menang kan juga menyumbang poin untuk tim,” kata Firda.

Demikian "head to head" KOMPAS yang berjudul Menunggu Egoisme Firdasari Mengatasi Lu Lan. Namun, saat bertemu Lu Lan (pemain peringkat ke-2 dunia) Firda (peringkat ke-35 dunia) ternyata tak terbukti. Firda seperti tak berdaya dan sering mati langkah.

Walau telah didukung oleh sekitar 8000 supporter di mana ada Ade Rae, Ariel "Peterpan), Adiyaksa Dault bahkan pak SBY dan bu SBY, Lu Lan mengahiri impian dan harapan segenap bangsa Indonesia (seraya sejenak melupakan soal rencana kenaikan BBM) untuk menguber Ubur Cup.

Sementara Tim Thomas sudah kandas di tangan Korea pada babak semi final, Jum'at kemarin.

Ternyata Tim Indonesia masih perlu banyak belajar yang lebih dari yang sudah-sudah. Bukan hanya taktik dan strategi. Namun semangat dan daya juang nampaknya masih perlu diasah lagi dan lagi.

Hidup Indonesia!

Merdeka atau Ma .... (buk/ti/lu) *)

*) Coret yang tak perlu.

Posted by Informan HP in 9:23 PM No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Label: Badminton, Berita, Indonesia, Opini, Rakyat, Refleksi, Thomas, Uber, Umum
Older Posts Home
Subscribe to: Posts (Atom)

Soegeng Rawoeh

Mudah-mudahan apa yang tertuang dalam blog ini ada guna dan manfaatnya.

Link Favorit

  • BBC Indonesia
  • Blog Profit Blueprint
  • Blog Profits Blueprint
  • Entrepreneurs Journey
  • facebook
  • SURYA online
  • Tempo Interaktif
  • Tweetdeck
  • Twitter
  • VOA Indonesia
  • Wikipedia
  • Yahoo Indonesia

Total Pageviews

Feedjit

Subscribe To

Posts
Atom
Posts
All Comments
Atom
All Comments
100 Tahun Budi Utomo My BlogCatalog BlogRank

Secret to Getting Google Ads FREE just $67

Advertising Free Annual Credit Report


KapanLagi.com Trailer


Search Engine Optimization and SEO Tools
AddThis Social Bookmark Button Djunaedi RDs Blog at Blogged blogaja.com

Readers

web counter Add to Technorati Favorites KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia Submit to Social Websites
Powered By Blogger

Geo Visit

Lelang Blog?


My blog is worth $1,693.62.
How much is your blog worth?

Live Traffic Feed

Perlu Ditengok

Add to Google Reader or Homepage

Subscribe in NewsGator Online

Subscribe in Rojo

Add Djunaedi RD's Blog to Newsburst from CNET News.com

Add to My AOL

Subscribe in FeedLounge

Add to netvibes

Subscribe in Bloglines

Add to The Free Dictionary

Add to The Free Dictionary

Add to Plusmo

Subscribe in NewsAlloy

Add to Excite MIX

Add to netomat Hub

Add to fwicki

Add to flurry

Add to Webwag

Add to Pageflakes

blog-indonesia.com Submit to Social Websites

Blog Archive

  • ▼  2010 (2)
    • ▼  October (1)
      • Nokia C-3 Atawa LG GW 305
    • ►  January (1)
  • ►  2009 (23)
    • ►  October (1)
    • ►  June (1)
    • ►  May (3)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (1)
    • ►  January (13)
  • ►  2008 (341)
    • ►  December (28)
    • ►  November (35)
    • ►  October (4)
    • ►  September (12)
    • ►  August (29)
    • ►  July (16)
    • ►  June (34)
    • ►  May (38)
    • ►  April (36)
    • ►  March (60)
    • ►  February (28)
    • ►  January (21)
  • ►  2007 (13)
    • ►  December (3)
    • ►  November (10)
Awesome Inc. theme. Powered by Blogger.