Showing posts with label Televisi. Show all posts
Showing posts with label Televisi. Show all posts

Wednesday, January 14, 2009

Warga Malang Nan Malang

Sudah sebulan lebih, warga Malang Raya, kecuali Kecamatan Lawang, dikejutkan oleh raibnya siaran sejumlah TV swasta nasional maupun lokal. Ada 11 stasiun TV yang menghentikan siaran. Padahal, mereka telah hadir dan merasuk ke hati masyarakat Malang hamper satu dasawarsa. Apa pasal?

Reformasi 1998 yang ditandai dengan kebebasan pers membuat penyampaian informasi, baik melalui media cetak maupun elektronik. Dengan alasan semangat melaksanakan otoda dan melempemnya aktivitas Balai Monitoring (Balmon), pemerintah daerah, komunitas agama, dan pengusaha-pengusaha lokal menirunya dengan mendirikan TV local. Di Malang Raya setidaknya ada 7 stasiun TV local, antara lain JTV, Malang TV, Batu TV, Agropolitan TV, Dharma TV dan Space Toon. Sementara untuk pemancar stasiun TV Swasta Nasional, muncul Trans TV, Metro TV, tvOne, Trans 7, Global TV.

Kini, kesemuanya harus raib dari langit Malang Raya – kecuali Kecamatan Lawang, yang memang bisa langsung mengarahkan antene TV-nya ke Surabaya.

Sesuai dengan Kepmenhub, ada 7 kanal TV di Malang Raya. Dari 7 kanal itu 6 sudah terisi oleh TVRI, RCTI, SCTV, TPI, ANTV, dan Indosiar. Sementara yang 1 kanal harus diperebutkan oleh 11 stasiun TV yang kini berhenti siaran.

Dampak ‘pembredelan’ ini mau tidak mau warga Malang harus memasang TV kabel untuk mengetahui acara stasiun TV lain. Sementara warga yang tidak berlangganan TV kabel terpaksa harus menunggu hingga pemerintah melaksanakan migrasi sistem penyiaran analog ke sistem digital pada tahun 2015.

Kalau ini yang terjadi, masyarakat Malang benar-benar akan ‘terpasung’ lama dari informasi dan hiburan pertelevisian.

[ sumber: Warga Malang ‘Terpasung’ Informasi & Harusnya Desak Revisi Kepmen No 76, Lipsus Harian Surya, 12 Januari 2009 ]

Wednesday, November 19, 2008

Gila Televisi: Tanda Tak Bahagia?

Sebuah penelitian unik menyimpulkan bahwa orang yang suka berjam-jam nonton televisi, pertanda tidak bahagia hidupnya.

Penelitian tersebut mengatakan bahwa mereka yang kurang bahagia menonton televisi 30% lebih banyak dibanding yang bahagia.

Mereka yang mengaku bahagia biasanya menonton televisi sekitar 19 jam setiap minggu, sedangkan yang kurang bahagia menghabiskan waktu di depan TV lebih panjang, yakni 25 jam per minggu. Demikian hasil survey sosial masyarakat terhadap 30.000 orang dewasa di Amerika sejak tahun 1975 hingga 2006.

Mereka yang bahagia biasanya aktif bepergian, ke gereja atau pengajian, ataupun membaca Koran. Namun belum jelas juga apakah menonton televisi menjadi pelarian mereka yang kurang bahagia.

Namun hampir semua orang mengaku senang nonton televisi. Para partisipan memberi angka 8 untuk aktivitas nonton televisi dengan skala 0 hingga 10. Sayangnya kesenangan ini tidak berlangsung lama. “Data-data menunjukkan, televisi mungkin menyediakan kesenangan sesaat, namun memberi efek kurang baik yang panjang,” kata John Robinson, peneliti yang adalah sosiolog dari Universitas Maryland.

Para peneliti akan berusaha mencari hubungan antara televisi dengan kebahagaian. (Suka Nonton TV, Indikasi Tidak Bahagia?Harian Surya)

Tuesday, July 15, 2008

Matikan Televisi Tanggal 20 Juli: Bisakah?

Bagaimana rasanya hari tanpa televisi? Kalau ingin tahu rasanya, silakan ikuti ajakan Koalisi Nasional Hari Tanpa Televisi (HTT) untuk mematikan TV dalam sehari pada 20 Juli mendatang. Kampanye bertajuk: Turn off TV, Turn on Live! (Matikan TV, Beralihlah ke Kehidupan Nyata). Koalisi Nasional HTT menetapkan tanggal itu sebagai hari tanpa TV untuk tahun 2008 ini. HTT kali ini dilaksanakan untuk yang ketiga kalinya setelah digagas tahun 2006 lalu.

Peneliti dari Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA), Nina Mutmainnah Armando, mengatakan, HTT tidak bermaksud memusuhi televisi, melainkan sebagai gerakan untuk membangun sikap bijak terhadap penggunaan TV.

"Kadang kita lupa, tombol on (hidup, red) pada televisi tidak harus selalu menyala. Jadi, gerakan ini bukan untuk memusuhi TV. Tujuannya untuk mengurangi ketergantungan anak pada TV dan pernyataan keprihatinan masyarakat terhadap isi acara TV yang tidak sehat dan tidak aman untuk anak-anak," papar Nina pada jumpa pers di kantor Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Jakarta, Senin (14/7).

Target gerakan HTT adalah mengajak 1 juta keluarga di seluruh Indonesia untuk mematikan TV dalam sehari penuh pada tanggal 20 Juli. Khususnya, keluarga yang memiliki anak usia prasekolah dan sekolah dasar.

Beberapa alternatif yang diberikan YPMA, keluarga bisa melakukan kegiatan bersama yang menciptakan interaksi antara anak dengan keluarga dan lingkungan sosialnya. Jam menonton TV yang sangat tinggi pada anak membuat mereka tercerabut dari komunitas sosialnya.

Bisakah kita melakukan hal ini? Karena nampaknya televisi sudah menjadi bagian dari hidup kita........

[ Sumber : 20 Juli, Matikan TV !, Surya Online)


Soegeng Rawoeh

Mudah-mudahan apa yang tertuang dalam blog ini ada guna dan manfaatnya.