Showing posts with label Pahlawan. Show all posts
Showing posts with label Pahlawan. Show all posts

Thursday, December 18, 2008

Kisah Tentang “Sepatu Bush”

Sepasang sepatu yang dipakai wartawan Irak, Muntazer al_Zahdi, untuk melempari Presiden George W. Bush, mulai menjadi incaran orang-orang kaya Timur Tengah.

Awalnya adalah Adnan Ahmad, direktur teknik kesebelasan nasional Irak, yang berani membeli itu sepatu seharga 100.000 dollar AS (Rp 1,1 milyar). Katanya, nilai itu sepadan dengan keberanian yang ditunjukkan Zaidi yang dianggap mewakili sikap warga Irak.

Namun, selang sehari, tawaran lain – yang lebih fantastis – datang dari seorang pengusaha negeri itu (yang masih dirahasiakan identitasnya). Bayangkan, sepatu yang mungkin awalnya dibeli wartawan itu – paling tidak harganya sekitar Rp 50.000, kini harganya menjadi 20 juta dolar AS (Rp 220 Milyar).

Siapa yang bakal kaya dari sepatu itu belum jelas, karena keberadaannya juga tidak diketahui sampai kini. Ada spekulasi bahwa sepatu itu kini disita aparat keamanan Irak atau dibawa pejabat pemerintahan Bush. Salah satu harian Irak melaporkan, kalau Zaidi terbukti tidak bersalah maka sepatu itu akan dikembalikan.
Selain tawaran-tawaran yang menggiurkan itu, muncul pula dukungan dalam bentuk lain.

Putri pemimpin Libya Muammar Khadafi, Aicha, mengatakan, lembaga sosialnya akan memberikan penghargaan berupa medali keberanian. “Aksi itu merupakan kemenangan bagi hak asasi manusia,” katanya.

Lalu, di Afganistan, Zang-i-Khatar, acara komedi, merekonstruksikan adegan pelemparan sepatu itu. Namun kali ini Bush benar-benar kena.

Di Inggris , peristiwa itu mengilhami munculnya game komputer Sock and Awe. Game yang mempelesetkan sifat serbuan AS ke Irak. Game ini menggunakan Bush sebagai sasaran.

Sidang atas kejadian itu sudah digelar hari ini di Green Zone, markas militer AS dan pusat pemerintahan Irak di Bagdad – tanpa kehadiran di terdakwa. Karena Zaidi saat ini masih dirawat di Rumah Sakit Ibn Zina yang dikelola AS di Green Zone. Muntazer al-Zaidi mengalami patah tangan dan tulang rusuk serta luka di wajah dan kaki akibat dipukul aparat keamanan Irak. (‘Sepatu Bush’ Ditawar Rp 220 M, Di Afdanistan Lemparan Jadi Kena - Suryalive)

Stories about "Bush Shoes"

A pair of shoes that used Iraqi journalists, Muntazer al-Zahdi, to pelt President George W. Bush, who began a

searching richman of Middle East.

Adnan Ahmad is the beginning, technical director of the Iraqi national eleven, who dare to buy the shoes worth 100,000 U.S. dollars (Rp 1,1 billion). Meanwhile, the value is commensurate with the courage shown Furthermore, which is considered to represent the attitudes of citizens of Iraq.

However, the lapse day, another bid - the more fantastic - come from a country that the businessmen (who are still concealed identity). Imagine, shoes, which may initially purchased the journalists - most do not price around Rp 500,000, now is the price to 20 million U.S. dollars (Rp 220 billion).

Who is the candidate of the rich shoe is not yet clear, because its existence was not known until now. There is speculation that the shoe is now a security officer be brought Iraq or Bush administration officials. One of Iraq's daily report, if proven not guilty Furthermore, the shoes will be returned. Besides bid-bid, which arouse it, also appear in other forms of support.

Daughter of Libyan leader Mu`ammar Khadafi, Aicha, say, social institutions will award a medal to give courage. "Action is a victory for human rights," he said.

Then, in Afghanistan, Zang-i-Khatar, a comedy, reconstruction of throwing shoes that scene. However, this time Bush really be.

In Britain, events that inspire the emergence of computer games Sock and Awe. Mempelesetkan nature of the game to the U.S. invasion of Iraq. Bush is using the Games as a target.

The Council of the event is held today in the Green Zone, U.S. military headquarters and the central government of Iraq in Baghdad - without the presence of the accused. Furthermore because the current is still being treated in hospital, Ibn Zina managed by the U.S. in the Green Zone. Furthermore Muntazer al-experienced broken hand and rib injuries in the face and legs and beaten as a result of the Iraqi security officials. (translate from ‘Sepatu Bush’ Ditawar Rp 220 M, Di Afdanistan Lemparan Jadi Kena - Suryalive)

Sunday, August 17, 2008

Setelah 63 Tahun Kita Merdeka

Jangan mencita-citakan adanya pemimpin-pahlawan bangsa Indonesia, melainkan kehendakilah adanya pahlawan-pahlawan yang tak punya nama. (Bung Hatta)

Hari Kamis Malam Jum’at Legi, pada saat bulan Ramadhan, 63 tahun yang lalu, sekelompok pemuda "menculik" Bung Karno untuk kemudian didesak agar memproklamirkan Indonesia sebagai Negara. Setelah melalui perdebatan yang sengit, akhirnya Bung Karno pun menyetujuinya. Sehingga esoknya, pukul 10 pagi, Indonesia menyatakan kemerdekaannya.

Tadi Malam, Sabtu, segenap penduduk Indonesia, tua muda, pada berkelompok, berkumpul pada setiap RT atau RW, pada bartasyakur demi mengenang jasa-jasa para pejuang kemerdekaan kita. Ada yang dalam bentuk tahlilan, ada yang membacakan riwayat para pejuang (baik lokal maupun nasional) dan sebagainya.

Para pejuang kita dulu merebut kemerdekaan dari tangan penjajah demi untuk sebuah cita-cita yang luhur. Merdeka untuk semua. Merdeka untuk segenap rakyat Indonesia.

Pada awal-awal kemerdekaan, karena Bung Karno tidak mau dibantu (untuk kemudian didikte) oleh pihak asing, maka katanya: go to hell with your aid. Sehingga, demi semangat berdikari, pernah terjadi pemotongan uang, dari seribu rupiah menjadi serupiah. Meski melarat yang penting merdeka.

Pada zaman orde baru, Bapak Pembangunan Indonesia, Soeharto, mencoba memanjakan rakyat Indonesia. Semua bahan pokok pun disubsidi, sambil juga tidak lupa untuk mensubsidi keluarga beserta kroninya.
Rakyat Jelata tersenyum karena bisa membeli bahan pokok dengan murah. Rakyat Elite pun tersenyum karena memperoleh kucuran dana yang alangkah banyaknya. Yang menangis mungkin bumi pertiwi, karena kekayaan yang terkandung di dalamnya hanya sebagian kecil saja yang bisa dinikmati rakyat jelata. Sementara yang lain dikorupsi.

Pada zaman orde (ter)baru, subsidi pada dicabut. Sementara kegiatan korupsi tidak ikut (otomatis) dicabut. Karena memang sulit untuk mencari bukti-bukti formal, seperti yang diminta oleh Undang-Undang Anti Korupsi.

Intinya, kita betul telah merdeka selama 63 tahun. Namun sejatinya, kita rakyat jelata diam-diam ternyata masih dalam masa penjajahan. Ibaratnya keluar dari mulut singa tapi masuk ke mulut buaya.

[ Tulisan ini setahun yang lalu saya tulis di sini; Gambar diambil dari sini, yang merupakan Ruang tamu rumah persembunyian Bung Karno di Rengasdengklok. ]

Monday, June 23, 2008

EURO 2008 & Nasionalisme

Guus Hiddink bak Raja Midas, yang mana setiap yang disentuhnya akan berubah menjadi emas. Betapa tidak, Tim Oranye Belanda yang memperoleh point penuh (9) dan sekalgus menjadi juara Grup dikandaskan oleh Rusia dengan angka telak 3 – 1.

Dengan kejeniusannya Guus Hiddink memanfaatkan kelebihan The Red Army Rusia dari sisi, disiplin dan kecepatan. Sehingga tim besutan Basten menjadi tidak berkutik dibuatnya.

Bagi Belanda ia mungkin dikutuk si pengkhianat. Demikian tulis Surya Online. Namun bagi Rusia, yang menunggu waktu 20 tahun untuk bisa menembus semi final EURO 2008, jelas ia adalah seorang pahlawan. Bahkan ia kini disebut Tsar Hiddink, sebuah jabatan ningrat terhormat Rusia tempo doeloe. Bahkan Presiden rusia Dmitri Medvedev akan memberi kewarganegaraan Rusia kepada Hiddink. “Dia tidak perlu pulang, kami bisa menjadikannya warga Rusia.”

Layakkah ia dicap sebagai pengkhianat?

Saya pikir tidak. Karena apa yang dilakukan si Guus itu adalah suatu profesionalitas dalam bekerja. Betapa tidak. Bukti keprofesionalisasian dia nampak pada saat World Cup 2002, membawa Korea Selatan hingga ke semi final atau sebelumnya membawa Belanda ke semi final Word Cup 1998 di Perancis. Kemudian membawa Australia menapaki Putaran Kedua pada Word Cup 2006 di Portugal.

Justu ia akan tampak sebagai tidak professional manakala harus meminta Rusia untuk mengalah kepada Belanda, demi menampakkan rasa nasionalisme dia.

Akankah ia mau melatih tim Indonesia, agar bisa menikmati aroma Piala Dunia 2014, atau 2018, atau 2022?

-------

Gambar Guss Hiddink naik kuda diambil dari sini.

Saturday, March 22, 2008

Banner 100 Tahun Kebangkitan Indonesia

Peringatan Hari Kebangkitan Nasional pada tanggal 20 Mei mendatang pas berusia 1 abad. Demi menyambut peristiwa bersejarah tersebut, beberapa hari yang lalu saya pasang banner 100 Tahun Kebangkitan Indonesia.
Dengan memanfaatkan situs photobuchet saya bisa memasang gambar ini:


Soegeng Rawoeh

Mudah-mudahan apa yang tertuang dalam blog ini ada guna dan manfaatnya.