Showing posts with label Orde Baru. Show all posts
Showing posts with label Orde Baru. Show all posts

Wednesday, January 7, 2009

Soal Pupuk Langka

Sebelum reformasi, distributor pupuk ditangani oleh PUSKUD (Pusat Koperasi Unit Desa) Jawa Timur. Sementara KUD-KUD bertindak sebagai penyalur. Pada saat di tangan KUD tak ada ceritanya soal pupuk langka. Walau harganya mungkin lebih tinggi daripada HET (Harga Eceran Tertinggi), namun stock pupuk selalu ada di kios-kios pengecer.

Kini, setelah reformasi, buah dari pasar besar, komoditi pupuk bebas dikelola oleh pasar. Akibatnya hanya pedagang berduit saja yang bisa bermain. Akibatnya, belakangan ini kisah pupuk langka sering atau kerap terjadi di mana-mana. Harga sudah mahal, langka lagi. Ini karena para pedagang murni menerapkan prinsip ekonomi. Tak peduli kondisi petani yang kian termajinalkan itu.

Dalam rubriek Ekonomi dan Bisnis Harian Surya, diberitakan bahwa PUSKUD Jatim meminta Pemerintah memberi kewenangan distribusi pupuk bersubsidi. Hal ini sebagai upaya untuk meminimalisasi terjadinya penyimpangan dan mempermudah pengawasan distribusi pupuk bersubsidi, yang kini sebagian besar diserahkan ke distributor swasta.

Ketua PUSKUD Jatim H. Mardjito mengatakan, permintaan PUSKUD itu telah disampaikan kepada Gubernur Jawa Timur untuk diteruskan ke Pemerintah Pusat. Dalam waktu dekat, PUSKUD Jatim juga akan berkoordinasi dengan PUSKUD Jawa Tengah, DIY dan Jawa Barat, untuk menyatukan langkah meminta kewenangan distribusi pupuk bersubsidi tersebut.......

Lebih lauh dikatakan oleh Mardjito, bahwa persoalan pupuk bersubsidi yang sering mengalami kelangkaan tetika dibutuhkan petani merupakan salah satu bentuk permainan dagang. Menurutnya, hal ini karena sistem pengawasan distribusi pupuk bersubsidi oleh pemerintah sangat lemah.

Apalagi, lanjutnya, distributor swasta dalam menyalurkan pupuk bersubsidi selalu memperhitungkan laba dan rugi terlebih dahulu dibanding harus memperdulikan kepentingan petani. Dampaknya, ketika kebutuhan pupuk sedang meningkat justru menghilang di pasaran. “Kalaupun persediaan masih ada, harganya sudah di luar ketentuan sebagai pupuk bersubsidi,” ujar Mardjito….

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jatim Bramansetyo mengatakan, pihaknya sangat mendukung upaya PUSKUD Jatim itu. Pasalnya, PUSKUD telah memiliki jaringan distribusi yang sudah tertata dan gudang milik KUD siap digunakan menampung pupuk bersubsidi sebelum didistribusikan……

Meskipun demikian, lanjut Bramansetyo, PUSKUD Jatim harus tetap melakukan seleksi terhadap KUD yang menjadi agen pupuk bersubsidi…. Dari sekitar 702 KUD anggota PUSKUD Jatim, hanya ada 460 KUD yang aktif beroperasi……….

Sementara itu, Pjs Gubernur Jawa Timur, Setija Purwaka mengungkapkan, keinginan PUSKUD Jatim menjadi distributor pupuk bersubsidi merupakan langkah strategis sebagai upaya pengembangan Koperasi. “Kami akan meminta Mendag dan Mentan mempertimbangkan keinginan itu. Jika PUSKUD menjadi distributor pupuk bersubsidi, tentu system pengawasan akan lebih mudah disbanding diserahkan ke swasta,” tutur Setija. (Puskud Incar Distribusi Pupuk – Ekonomi dan Bisnis, Harian Surya, 07/01/2009)

Sunday, August 17, 2008

Setelah 63 Tahun Kita Merdeka

Jangan mencita-citakan adanya pemimpin-pahlawan bangsa Indonesia, melainkan kehendakilah adanya pahlawan-pahlawan yang tak punya nama. (Bung Hatta)

Hari Kamis Malam Jum’at Legi, pada saat bulan Ramadhan, 63 tahun yang lalu, sekelompok pemuda "menculik" Bung Karno untuk kemudian didesak agar memproklamirkan Indonesia sebagai Negara. Setelah melalui perdebatan yang sengit, akhirnya Bung Karno pun menyetujuinya. Sehingga esoknya, pukul 10 pagi, Indonesia menyatakan kemerdekaannya.

Tadi Malam, Sabtu, segenap penduduk Indonesia, tua muda, pada berkelompok, berkumpul pada setiap RT atau RW, pada bartasyakur demi mengenang jasa-jasa para pejuang kemerdekaan kita. Ada yang dalam bentuk tahlilan, ada yang membacakan riwayat para pejuang (baik lokal maupun nasional) dan sebagainya.

Para pejuang kita dulu merebut kemerdekaan dari tangan penjajah demi untuk sebuah cita-cita yang luhur. Merdeka untuk semua. Merdeka untuk segenap rakyat Indonesia.

Pada awal-awal kemerdekaan, karena Bung Karno tidak mau dibantu (untuk kemudian didikte) oleh pihak asing, maka katanya: go to hell with your aid. Sehingga, demi semangat berdikari, pernah terjadi pemotongan uang, dari seribu rupiah menjadi serupiah. Meski melarat yang penting merdeka.

Pada zaman orde baru, Bapak Pembangunan Indonesia, Soeharto, mencoba memanjakan rakyat Indonesia. Semua bahan pokok pun disubsidi, sambil juga tidak lupa untuk mensubsidi keluarga beserta kroninya.
Rakyat Jelata tersenyum karena bisa membeli bahan pokok dengan murah. Rakyat Elite pun tersenyum karena memperoleh kucuran dana yang alangkah banyaknya. Yang menangis mungkin bumi pertiwi, karena kekayaan yang terkandung di dalamnya hanya sebagian kecil saja yang bisa dinikmati rakyat jelata. Sementara yang lain dikorupsi.

Pada zaman orde (ter)baru, subsidi pada dicabut. Sementara kegiatan korupsi tidak ikut (otomatis) dicabut. Karena memang sulit untuk mencari bukti-bukti formal, seperti yang diminta oleh Undang-Undang Anti Korupsi.

Intinya, kita betul telah merdeka selama 63 tahun. Namun sejatinya, kita rakyat jelata diam-diam ternyata masih dalam masa penjajahan. Ibaratnya keluar dari mulut singa tapi masuk ke mulut buaya.

[ Tulisan ini setahun yang lalu saya tulis di sini; Gambar diambil dari sini, yang merupakan Ruang tamu rumah persembunyian Bung Karno di Rengasdengklok. ]

Saturday, May 3, 2008

Saat Mahasiswa Meng-HARDIK- Pak Harto

Entah kebetulan atau tidak, setelah pada tanggal 1 Mei 1998, Soeharto melalui Menteri Dalam Negeri Hartono dan Menteri Penerangan Alwi Dachlan mengatakan bahwa reformasi baru bisa dimulai tahun 2003, besoknya, 2 Mei 1998, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, Pernyataan itu diralat dan kemudian dinyatakan bahwa Soeharto mengatakan reformasi bisa dilakukan sejak sekarang (1998).

Lantas peristiwa demi peristiwa pun terjadi secara beruntun. Tanggal 4 Mei 1998, Harga BBM meroket 71%, disusul 3 hari kerusuhan di Medan dengan korban sedikitnya 6 meninggal. Lalu tanggal 7 Mei 1998 terjadi Peristiwa Cimanggis, Bentrokan antara mahasiswa dan aparat keamanan terjadi di kampus Fakultas Teknik Universitas Jayabaya, Cimanggis, yang mengakibatkan sedikitnya 52 mahasiswa dibawa ke RS Tugu Ibu, Cimanggis. Tanggal 8 Mei terjadi Peristiwa Gejayan, 1 mahasiswa Yogyakarta tewas terbunuh. Lalu 12 Mei Tragedi Trisakti, 4 Mahasiswa Trisakti terbunuh. Tanggal 13 Mei Kerusuhan Mei 1998 pecah di Jakarta. Kerusuhan juga terjadi di kota Solo. 14 Mei Demonstrasi terus bertambah besar hampir di seluruh kota-kota di Indonesia, demonstran mengepung dan menduduki gedung-gedung DPRD di daerah. Soeharto seperti dikutip koran, mengatakan bersedia mengundurkan diri jika rakyat menginginkan. Ia mengatakan itu di depan masyarakat Indonesia di Kairo.

Dan sehari setelah Hari Kebangkitan Nasional, Pak Harto menyatakan pengunduran dirinya. Tanggal inilah yang menjadi tonggak reformasi, saat tumbangnya rezim Orde Baru dan lahirnya Orde Reformasi bin Orde (ter)-Baru.

Telah 10 Tahun usianya, namun nasib (sebagian terbesar) rakyat masioh belum beranjak dari keterpurukannya. Malah, ada sebagian kalangan bilang nasibnya lebih jelek ketimbang di masa rezim Orde Baru.

Ternyata yang paling mencolok perubahannya adalah soal jumlah pelaku korupsi. Kalau di zaman Orde Baru korupsi 'lebih banyak' dilakukan oleh para 'abdi negara' alias kalangan eksekutif dan yudikatif, maka di zaman Orde (ter)Baru kian meluas ke kalangan Wakil Rakyat.

[ sumber: Wikipedia ]

Tuesday, April 1, 2008

Beda Yayasan Supersemar dan Pak Harto

Menurut TEMPO, jawabnya : Yayasan Bersalah, Soeharto Tidak

cover_tempo.jpgDalam kasus penyelewengan dana Yayasan Supersemar, Soeharto dinyatakan tak bersalah. Kroni-kroninya senang.

Kabar gembira itu datang tak lama setelah sidang kasus Yayasan Supersemar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan selesai, Kamis pekan lalu. Majelis hakim yang dipimpin Wahjono menolak gugatan pemerintah atas almarhum Soeharto, dalam perkara penyelewengan dana yayasan.

Namun majelis hakim tetap menjerat Yayasan Supersemar dengan membayar 25 persen dari ganti rugi US$ 420 juta (Rp 3,8 triliun) dan Rp 185 miliar. Kelak, kewajiban yang mesti ditunaikan lembaga itu US$ 105 juta atau setara dengan Rp 950 miliar dan ditambah Rp 46,4 miliar. Sedangkan gugatan imaterial Rp 10 triliun tak dipenuhi oleh majelis hakim.

Sesudah Soeharto meninggal pada 27 Januari lalu, Mamiek dan lima saudaranya, kecuali Hutomo Mandala Putra, disorongkan oleh jaksa penuntut sebagai ahli waris kasus. Walau tak pernah hadir dalam sidang, dengan vonis ini mereka bebas dalam perkara yayasan.

Lantas kenapa Pak Harto bisa bebas dari vonis hakim? Alasan majelis hakim bahwa Soeharto sebagai pendiri yayasan tidak bersalah, menurut Aswan, yang bersangkutan sebelum lengser telah mempertanggungjawabkan kepada sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat dan itu diterima. ”Jadi tak terbukti melawan hukum.”

Jadi Pak Haro bisa bebas karena MPR (saat dipimpin oleh Harmoko) menerima pertanggungjawabannya. Nah, lu......

Yayasan Supersemar berdiri di era Orde Baru. Yayasan yang menjadi ”lumbung” dari setoran 5 persen laba bersih semua bank pemerintah ini bergerak di bidang sosial. Salah satunya memberikan beasiswa kepada anak pintar tapi secara ekonomi kurang mampu. Dalam perjalanannya, penyaluran duit melenceng ke sejumlah perusahaan.

Di antara perusahaan yang dikucuri modal yayasan adalah maskapai penerbangan Sempati Air milik Hutomo ”Tommy” Mandala Putra, Bank Duta, dan kelompok usaha Kosgoro. Berikutnya perusahaan milik Bob Hasan, salah satu kroni Soeharto, yaitu PT Kiani Lestari, PT Kiani Sakti, PT Kalhold Utama, PT Essam Timber, dan PT Tanjung Redep Hutan Tanaman Industri.

Jaksa pengacara negara Yoseph Suardi Sabda mengatakan, keputusan hakim terbalik. Mestinya bukan yayasan yang disalahkan, tapi orang yang membuat kebijakan. ”Di mana-mana kasus korupsi yang dijerat orangnya,” katanya. ”Badan hukum atau korporasi tak mungkin ada tanpa pengendali.”

Ia khawatir putusan majelis hakim menimbulkan preseden buruk apabila kasus ini berkekuatan hukum tetap, mengingat yayasan lain yang dikelola Soeharto semasa berkuasa diduga banyak yang menyimpang. Setelah kasus Yayasan Supersemar beres, menurut Yoseph, kejaksaan secepatnya mengajukan gugatan Yayasan Amal Bhakti Pancasila dan Yayasan Dharmais. ”Perjuangan kami belum selesai,” ujarnya kepada Tempo.

Ahli hukum pidana dari Universitas Indonesia, Rudi Satrio, menilai pertimbangan hakim membebaskan Soeharto karena pertanggungjawabannya diterima MPR tidak pada tempatnya. Itu pertanggungjawaban politis yang tidak bisa disandingkan dengan masalah yurtidis. ”Zaman itu, banyak pelanggaran hukum, tapi penegakan hukum lemah. Tak berani sama Soeharto,” katanya.

Dampaknya, Rudi menambahkan, kroni-kroni Soeharto yang nantinya menghadapi gugatan berkaitan dengan yayasan akan minta perlakuan serupa. Yang tidak masuk akal di sini, menurut Rudi, hakim memutus yayasan membayar ganti rugi.

Itu artinya, menurut Rudi, secara tidak langsung majelis hakim mengakui ada kesalahan dalam manajemen Yayasan Supersemar. ”Mestinya Soeharto dinyatakan bersalah,” kata Rudi, yang menganggap aneh keputusan hakim.

Koordinator Bidang Hukum dan Monitoring Peradilan Indonesia Corruption Watch, Emerson Juntho, mendesak Kejaksaan Agung mengusut kasus Yayasan Supersemar melalui jalur pidana. Walau Soeharto telah meninggal, pengurus dan pemilik perusahaan penerima duit yayasan bisa dijerat ikut menyalahgunakan kekuasaan. ”Tidak ada jalan lain,” katanya.

JALAN MENUJU KEADILAN NAMPAKNYA MENEMUI TEMBOK YANG MAHA TEBAL. PERLU KEKUATAN YANG MAHA DAHSYAT UNTUK BISA MENJEBOLNYA.

Nampaknya ini ujian berat bagi pemerintah Orde (ter)Baru bin Orde Reformasi, menjelang Pemilu 2009.

Tuesday, March 11, 2008

Missing Link Supersemar

Super menurut kamus bisa berarti luar biasa atau istimewa. Sedang Semar adalah tokoh punakawan yang dalam wayang Jawa/Sunda memiliki peran yang lebih utama ketimbang wayang babon (wayang dengan tokoh asli India). Merupakan Jelmaan dari Bambang Ismaya anak tertua dari Sang Hyang Tunggal. Dan kalau Supersemar itu (diambil dari sini) adalah sebagai berikut :

150px-supersemar_i.jpgSurat Perintah Sebelas Maret atau Surat Perintah 11 Maret yang disingkat menjadi Supersemar adalah surat perintah yang ditandatangani oleh Presiden Republik Indonesia Soekarno pada tanggal 11 Maret 1966.

Surat ini berisi perintah yang menginstruksikan Soeharto, selaku Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) untuk mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk mengatasi situasi keamanan yang buruk pada saat itu.


PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
SURAT PERINTAH

I. Mengingat:
1.1. Tingkatan Revolusi sekarang ini, serta keadaan politik baik nasional maupun Internasional
1.2. Perintah Harian Panglima Tertinggi Angkatan Bersendjata/Presiden/Panglima Besar Revolusi pada tanggal 8 Maret 1966
II. Menimbang:
2.1. Perlu adanja ketenangan dan kestabilan Pemerintahan dan djalannja Revolusi.
2.2. Perlu adanja djaminan keutuhan Pemimpin Besar Revolusi, ABRI dan Rakjat untuk memelihara kepemimpinan dan kewibawaan Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi serta segala adjaran-adjarannja
III. Memutuskan/Memerintahkan:
Kepada: LETNAN DJENDERAL SOEHARTO, MENTERI PANGLIMA ANGKATAN DARAT
Untuk: Atas nama Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi:
1. Mengambil segala tindakan jang dianggap perlu, untuk terdjaminnja keamanan dan ketenangan serta kestabilan djalannja Pemerintahan dan djalannja Revolusi, serta mendjamin keselamatan pribadi dan kewibawaan Pimpinan Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimin Besar revolusi/mandataris M.P.R.S. demi untuk keutuhan Bangsa dan Negara Republik Indonesia, dan melaksanakan dengan pasti segala adjaran Pemimpin Besar Revolusi.
2. Mengadakan koordinasi pelaksanaan perintah dengan Panglima-Panglima Angkatan-Angkatan lain dengan sebaik-baiknja.
3. Supaya melaporkan segala sesuatu jang bersangkuta-paut dalam tugas dan tanggung-djawabnja seperti tersebut diatas.
IV. Selesai.
Djakarta, 11 Maret 1966
PRESIDEN/PANGLIMA TERTINGGI/PEMIMPIN BESAR REVOLUSI/MANDATARIS M.P.R.S.
SOEKARNO

Surat Perintah Sebelas Maret ini adalah versi yang dikeluarkan dari Markas Besar Angkatan Darat (AD) yang juga tercatat dalam buku-buku sejarah. Sebagian kalangan sejarawan Indonesia mengatakan bahwa terdapat berbagai versi Supersemar sehingga masih ditelusuri naskah supersemar yang dikeluarkan oleh Presiden Soekarno di Istana Bogor.

Yang mana yang asli, tidak jelas hingga kini. Yang tahu pasti, adalah para pelaku sejarah, yang sayangnya sekarang sudah bersemayam di alam sana. Mereka adalah Brigadir jendral (Brigjen) M. Panggabean, Brigjen M. Jusuf, Brigjen Basuki Rahmat dan Mayor Jendral Soeharto. Sementara keterlibatan Brigadir Jenderal M. Panggabean ini masih diperdebatkan.

Berbagai usaha pernah dilakukan Arsip Nasional untuk mendapatkan kejelasan mengenai surat ini. Bahkan, lembaga ini berkali-kali meminta kepada Jendral (purn) M. Jusuf saksi terakhir hingga akhir hayatnya ( 8 September 2004), agar bersedia menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, namun selalu gagal. Lembaga ini juga sempat meminta bantuan Muladi yang ketika itu menjabat Mensesneg, Jusuf Kalla, M. Saelan, bahkan meminta DPR untuk memanggil M. Jusuf. Sampai sekarang, usaha Arsip Nasional itu tidak pernah terwujud. Saksi kunci lainnya, adalah mantan presiden Soeharto. Namun dengan wafatnya mantan Presiden Soeharto pada tanggal 27 Januari 2008 membuat sejarah Supersemar semakin sulit untuk diungkap.

Dengan kesimpangsiuran Supersemar itu, kalangan sejarawan dan hukum Indonesia mengatakan bahwa peristiwa G-30-S/PKI dan Supersemar adalah salah satu dari sekian sejarah Indonesia yang masih gelap.

Hari ini, Supersemar mulai menjadi berita lagi. Soalnya adalah, akankah Rahasia ini bakal terkuak?

Monday, January 28, 2008

Kemana Pak Harto Akan Pergi?













01.10 Siang, Minggu, 27 Januari 2008, Pak Soeharto, Presiden ke-2 RI, arsitek Orde Baru, Pencipta P4, akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Semua media nasional membuat head soal ini. Bahkan Majalah Tempo sampai perlu menampilan Cover Pak Harto, meskipun isinya lebih banyak soal lain - karena dead-line sudah lewat.

Setelah lebih dari 4 minggu menginap di Rumah Sakit Pertamina Jakarta, akhirnya Tim Dokter Kepresidenan akhirnya angkat tangan.

Berpulang sudah Bapak Pembangunan Indonesia ke alam barzah.

Kemanakah Pak Harto akan pergi?

Go to Hell :?: Go to Heaven :?:

Yang tahu tentu saja pak Harto sendiri. Karena kedua alamat tersebut telah dikenal baik oleh beliau. Cara-cara untuk mencapai ke sana juga sudah dipahaminya.

Bila Go to Heaven, tentu itu harapan yang paling afdol. Asal kebaikannya lebih banyak ketimbang keburukannya, niscaya akan kesana jua akhirnya.

Bila Go to Hell, ini pasti kebaikannya tak mencukupi untuk membayar keburukannya.

Kalau menurut Anda?

Monday, January 21, 2008

Pak Harto Angkat Tangan?

Jawa Pos Online hari ini, Senin, 21 Jan 2008, mewartakan bahwa Pak Harto angkat tangan. Maksudnya jelas bukan soal apa yang dituntut oleh para pengunjuk rasa soal penuntasan terhadap kasus-kasus beliau. Tapi ini soal perkembangan terakhir tentang kondisi kesehatan beliau. Antara lain diwartakan: Kondisi kesehatan mantan Presiden Soeharto terus membaik. Tim dokter kepresidenan sejak kemarin (20/1) telah memulai program fisioterapi untuk penguasa Orde Baru itu.

Ketua Tim Dokter Kepresidenan dr Mardjo Soebiandono menjelaskan, program fisioterapi tersebut dilakukan untuk memulihkan kekuatan otot-otot Soeharto yang selama beberapa hari sempat "tertidur". "Latihan itu sekaligus melatih beliau agar membiasakan bernapas spontan," katanya dalam jumpa pers di lantai III Gedung Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) kemarin.

Dalam kesempatan tersebut, tekanan darah Soeharto dilaporkan tetap stabil pada angka 110/40 mmHg.

Selain memperbaiki kekuatan otot, tim dokter masih terus mengevaluasi pengendalian infeksi sistemik ataupun sepsis pada Soeharto. Secara umum, kata Mardjo, pengendalian infeksi bisa berjalan lancar. Tapi, tim dokter tetap melakukan penanggulangan secara bertahap. "Infeksi sudah bisa ditangani. Namun, kami tak ingin salah langkah," tegasnya.

Anggota tim dokter kepresidenan lainnya, Prof Hadiarto Mangunnegoro, mengungkapkan, keberhasilan menanggulangi sepsis tak lepas dari kesesuaian antibiotik yang diberikan. Sebelum dijinakkan, kuman penyebab infeksi sengaja dibiakkan demi mempelajari imun (daya tahan tubuh) agar bisa melawannya. "Kepekaan kuman itulah yang menjadi target kami untuk dimatikan. Ternyata positif," ujarnya.

Sehari sebelumnya, tim dokter kepresidenan pada pukul 16.00 berhasil memindahkan tube ventilator dari mulut ke leher melalui tindakan tracheostomi (membuat lubang di saluran pernapasan atau trakea, tepatnya di bawah jakun).

"Tracheostomi itu dilakukan untuk mengurangi infeksi karena jarak ke paru lebih pendek, sehingga pertukaran gas lebih bagus," jelas dr Djoko Rahardjo, anggota tim dokter kepresidenan, kepada wartawan saat itu.

Pemindahan ventilator dari mulut ke leher melalui tracheostomi tersebut dilakukan setelah mulai ditemukan respons napas Soeharto sejak 4-5 hari lalu.

Dengan pemindahan tersebut, tim dokter akhirnya bisa membersihkan saluran mulut Soeharto. "Dengan tracheostomi, kami akhirnya bisa meminimalkan risiko infeksi," kata Mardjo kemarin.

Lantas, bagaimana dengan respons kesadaran Soeharto? Menurut anggota tim dokter kepresidenan lainnya, Prof Yusuf Misbach, kesadaran Soeharto mengalami perkembangan positif. "Perintah dari dokter sudah bisa dia respons," katanya.

Dia menyatakan, Soeharto sekarang sudah mampu mengangkat tangan kirinya. Meski masih lemah, upaya itu menunjukkan perkembangan pesat. "Beliau kan belum terbiasa. Karena itu, secara bertahap otot-ototnya akan dipulihkan," ujar ahli saraf tersebut.

Hingga kemarin, Soeharto masih terbaring di ICU. Jika dalam 3-4 hari terus terjadi kecenderungan membaik, dia bisa dipindahkan ke ruang perawatan biasa.

Wednesday, January 16, 2008

Wawancara Imajiner dengan Pak Harto

Headline Jawa Pos pagi ini berjudul: SBY Memilih Menuntaskan Kasus Hukum.

Untuk menanggapi semangat pak SBY nggak ada salahnya saya kutipikan sebgaian wawancara mas Darminto dengan Pak Harto berikut ini:

“Meskipun tersirat, Bung Karno sempat menyinggung soal gelombang separatisme yang belakangan melanda Indonesia karena perilaku salah pemerintah yang lalu, maksudnya pemerintahan Orde Baru. Bagaimana menurut pendapat Bapak?”

“He-he-ha… namanya daripada pembangunan itu, memang butuh daripada pengorbanan. Jer basuki mawa bea Ya, to? Jadi sudah sepantasnya sebagai saudara sebangsa dan se tanah air, pihak yang kuat harus membantu daripada pihak yang lemah. Jadi kita harus ambek parama arta. Mulat sarira angrasa wani. Sigra tan magita. Sedumuk bathuk, senyari bumi. Aja kagetan, aja gumunan, aja dumeh, aja gugupan. Ya, to? Ya, toh?”

“Saran Bapak untuk pemerintahan sekarang?”

“Kita ini kan bangsa daripada yang berbudi luhur. Jadi ya harus bisa melakukan daripada mikul dhuwur, menhem jero. Menghormati daripada jasa-jasa senior dan menyembunyikan serapat-rapatnya dosa-dosa dan kesalahan daripada sang senior itu. Sebagai pemimpin harus bisa mengamalkan daripada delapan kebajikan, seperti termuat dalam serat daripada Hasta Brata, begitu. Pemimpin harus bertindak seperti daripada Matahari, Bulan, Bintang, Bumi, Angin, Laut, Api dan Air.”

“Kok Bapak nyontek Raden Ngabehi Ronggowarsito?”

“Ah, nggak apa-apa. Dia juga nyontek daripada Prabu Rama Wijaya.”

(Sumber, Wawancara Imajiner dengan Bung Karno dan Pak Harto, dalam buku tulisan Darminto M. Sudarmo, Anatomi Lelucon di Indonesia, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, November 2004, Cetakan pertama)


Soegeng Rawoeh

Mudah-mudahan apa yang tertuang dalam blog ini ada guna dan manfaatnya.