Showing posts with label Orde Lama. Show all posts
Showing posts with label Orde Lama. Show all posts

Sunday, August 17, 2008

Setelah 63 Tahun Kita Merdeka

Jangan mencita-citakan adanya pemimpin-pahlawan bangsa Indonesia, melainkan kehendakilah adanya pahlawan-pahlawan yang tak punya nama. (Bung Hatta)

Hari Kamis Malam Jum’at Legi, pada saat bulan Ramadhan, 63 tahun yang lalu, sekelompok pemuda "menculik" Bung Karno untuk kemudian didesak agar memproklamirkan Indonesia sebagai Negara. Setelah melalui perdebatan yang sengit, akhirnya Bung Karno pun menyetujuinya. Sehingga esoknya, pukul 10 pagi, Indonesia menyatakan kemerdekaannya.

Tadi Malam, Sabtu, segenap penduduk Indonesia, tua muda, pada berkelompok, berkumpul pada setiap RT atau RW, pada bartasyakur demi mengenang jasa-jasa para pejuang kemerdekaan kita. Ada yang dalam bentuk tahlilan, ada yang membacakan riwayat para pejuang (baik lokal maupun nasional) dan sebagainya.

Para pejuang kita dulu merebut kemerdekaan dari tangan penjajah demi untuk sebuah cita-cita yang luhur. Merdeka untuk semua. Merdeka untuk segenap rakyat Indonesia.

Pada awal-awal kemerdekaan, karena Bung Karno tidak mau dibantu (untuk kemudian didikte) oleh pihak asing, maka katanya: go to hell with your aid. Sehingga, demi semangat berdikari, pernah terjadi pemotongan uang, dari seribu rupiah menjadi serupiah. Meski melarat yang penting merdeka.

Pada zaman orde baru, Bapak Pembangunan Indonesia, Soeharto, mencoba memanjakan rakyat Indonesia. Semua bahan pokok pun disubsidi, sambil juga tidak lupa untuk mensubsidi keluarga beserta kroninya.
Rakyat Jelata tersenyum karena bisa membeli bahan pokok dengan murah. Rakyat Elite pun tersenyum karena memperoleh kucuran dana yang alangkah banyaknya. Yang menangis mungkin bumi pertiwi, karena kekayaan yang terkandung di dalamnya hanya sebagian kecil saja yang bisa dinikmati rakyat jelata. Sementara yang lain dikorupsi.

Pada zaman orde (ter)baru, subsidi pada dicabut. Sementara kegiatan korupsi tidak ikut (otomatis) dicabut. Karena memang sulit untuk mencari bukti-bukti formal, seperti yang diminta oleh Undang-Undang Anti Korupsi.

Intinya, kita betul telah merdeka selama 63 tahun. Namun sejatinya, kita rakyat jelata diam-diam ternyata masih dalam masa penjajahan. Ibaratnya keluar dari mulut singa tapi masuk ke mulut buaya.

[ Tulisan ini setahun yang lalu saya tulis di sini; Gambar diambil dari sini, yang merupakan Ruang tamu rumah persembunyian Bung Karno di Rengasdengklok. ]

Wednesday, March 26, 2008

Mengulang Kisah Tahun 60-an: Antri Minyak Tanah

Bila di kota Malang tabung gas elpiji beserta kompornya sudah dibagikan ke segenap warganya, tapi tidak atau belum bagi warga kabupaten Malang. Memang sebulan lalu sebagian warga sudah didaftar. Katanya 20 KK per RT. Mungkin ini untuk tahap pertama.

Namun hingga kini, itu tabung dan itu kompor belum juga hadir. Sementara keberadaan minyak tanah di daerah kami (Lawang) sudah mulai langka.

antri-minyak-tanah1.jpgHampir setiap pagi di depan rumah kami, mulai dari anak kecil, orang tua, laki, perempuan, gemuk, kurus, semua pada antri beli minyak tanah. Sejak turun dari Masjid , setelah sholat Subuh, sudah banyak yang meletakkan jerigennya secara berbaris. Para generasi tahun 60-an bilang, "kayak zaman dulu. Zaman Orde Lama." Bedanya, kalau zaman dulu, keadaan ekonomi memang masih "carut marut". Kalau zaman sekarang, penataan ekonominya yang "carut marut".

antri-minyak-tanah2.jpgUntungnya pelaksanaan antriannya cukup tertib. Bagi yang masih ada keperluan lain, mereka meninggalkan jerigennya antri sendiri. Dan itu jerigen, secara berangsur akan bergerak sendiri, meski tanpa kehadiran pemiliknya. Soalnya yang lain, yang tidak ada keperluan lain, dengan sukarela mendorong jerigen itu bergeser.

Kadang memang ada satu dua yang ingin minta didahulukan, namun tentu saja yang lain menolaknya. Antri, mas, antri…..

Akibat negantri minyak tanah yang dibatasi hanya 10 liter per orang, mereka (ada) yang rela menomorduakan keluarganya. Yang anaknya yang mau berangkat sekolah, atau sekedar membuat kopi untuk suaminya (termasuk saya di dalamnya) atau terpaksa menunda belanjanya.

Entah sampai kapan hal semacam ini akan berakhir......


Soegeng Rawoeh

Mudah-mudahan apa yang tertuang dalam blog ini ada guna dan manfaatnya.