Showing posts with label Pilkada. Show all posts
Showing posts with label Pilkada. Show all posts

Thursday, April 9, 2009

Sambil Berplesir, Golput Pun Mengalir

Keponakan saya tanya besok nyontreng apa? Jawabnya : GOLPUT, oom!

Hah? Kenapa memang?

Saya dan teman-teman sekantor (di suatu Bank di Surabaya) 5 bus akan pergi ke Bali, jawabnya enteng.

SURYA live pun, 8 April 2009, memberitakan hal yang serupa. Dengan Judul Imbas Pemilu di Liburan Panjang, Ramai-ramai Pelesir daripada Nyontreng diberitakan nahwa Pemilihan umum (pemilu) untuk anggota legislatif 9 April pagi nanti yang bertepatan dengan dimulainya liburan panjang (long weekend) selama empat hari, tampaknya mendorong ribuan warga untuk lebih memanfaatkan waktu itu dengan menikmati liburan daripada menggunakan hak pilihnya.

Indikasi itu terlihat dari melonjaknya permintaan bepergian/berwisata yang diterima oleh biro-biro perjalanan dan wisata di Jatim, dengan waktu pemberangkatan pada 8 April hari ini serta waktu kembali pada 12 April nanti. Membanjirnya permintaan perjalanan tersebut tidak hanya untuk tujuan domestik tetapi juga luar negeri.

Dalam grafiknya, SURYA memaparkan bahwa pada masa Orde Lama Golput mencapai 12,34%. Pada masa Orde Baru (1971 - 1992) rata-rata Golputnya turun menjadi 8,70%. Dan di awal Orde Reformasi (1999) Golput naik lagi menjadi 10,40%. Cilakaknya pada Tahun 2004 (Pileg dan Pilpres) rata-rata Golputnya memecahkan rekor: 23%. Pada Pileg 2009 ini naga-naganya bakal memecahkan rekor lagi kalau kita melihat fenomena yang diberitakan oleh SURYA live tadi.

Saya sendiri, selain untuk DPR Pusat, nampaknya tidak atau belum punya pilihan. Ada saran?

Saturday, November 1, 2008

Hubungan antara Pilpres USA dan Pilkada Jatim

Hari Selasa setelah Senin pertama pada bulan November selalu menjadi hari pemilu presiden AS. Hari Selasa setelah Senin pertama tahun 2008 jatuh pada tanggal 4 November.

Awal penentuan soal hari Selasa ini diputuskan pada tahun 1845. Kemudian pada tahun 1875, hari Selasa juga sekaligus diputuskan sebagai hari pemilihan DPR AS. Pada tahun 1914, hari Selasa juga ditetapkan pemilu Senat AS.

Pertanyaan selanjutnya, mengapa pemilu dilakukan pada awal November? Pada awalnya, komposisi warga AS didominasi para petani. Karena itu, politisi AS menilai bahwa bulan November adalah bulan paling senggang bagi para petani untuk beramai-ramai memberikan suara.

Waktu senggang ini perlu agar para petani memiliki masa santai berjalan dari pelosok pedesaan ke sentra-sentra pemilu. Masalah, bulan November adalah bulan di mana masa panenan sudah usai, atau masa musim gugur yang ditandai dengan musim panen sudah usai.

Masa tanam terjadi pada musim semi dan musim panas adalah masa mengelola tanaman, menyiangi dan memupuki, serta seterusnya. Nah, masa musim gugur, cuaca masih dianggap bersahabat bagi warga bepergian menuju kotak-kotak pemilu yang dulunya harus melalui jalanan rusak dan becek.

Pertanyaan selanjutnya, mengapa harinya jatuh di setiap hari Selasa itu. Dulu kala, warga AS harus menempuh jarak yang relatif jauh untuk memilih. Hari Senin dianggap kurang tepat karena warga harus mulai berangkat untuk memilih sejak hari Minggu. Padahal, hari Minggu adalah saat berbakti di gereja-gereja.

Ada juga alasan lain mengapa pemilu selalu dilakukan hari Selasa setelah Senin pertama. Politisi AS ingin menghindari agar hari pemilu tidak jatuh pada tanggal 1 November. Ada dua alasan untuk ini.

Pertama, setiap 1 November adalah Hari Semua Orang Kudus (All Saints Day), hari libur bagi pemeluk Katolik. Jadi, jika 1 November jatuh pada hari Selasa, maka pemilu tidak akan dilakukan karena hari Selasa pada tanggal ini bukanlah hari Selasa setelah hari Senin pertama di bulan November.

Alasan kedua, hampir semua pedagang umumnya sibuk melihat rekening pembukuan setiap tanggal 1 setiap bulannya. Politisi AS khawatir bahwa sukses atau kegagalan bisnis pada bulan sebelumnya akan memengaruhi pilihan para pedagang. (Mengapa pada Selasa, 4 November 2008? - KOMPAS)

Lalu hubungannya dengan Kaji dan Karsa? Hubungannya adalah baik Pilpres USA maupun Pilkada Jatim sama dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 4 November 2008. Lalu kenapa tanggal 4, padahal awalnya ditentukan tanggal 5? Konon rumornya kubu Kaji protes, soalnya nomor suara milik Karsa adalah tanggal 5. Itu saja soalnya.

Bagi saya, sebagai warga Jawa Timur, lebih bergairah mengikuti Pilpres ketimbang Pilkada. Apalagi kalau Obama nanti betul-betul (seperti feeling saya) jadi presiden.

Wednesday, July 23, 2008

Quick Count LSI: Karsa Unggul

Hasil perhitungan Lembaga Survei Indonesia (LSI) pukul 13.20 WIB. untuk sementara posisi pertama ditempati oleh pasangan Karsa (Pakde Karwo - Gus Ipul) - 27,86% - yang dikuntit ketat oleh pasangan Ka-Ji (Kofifah - Mujiono) - 25,04 %.

Selengkapnya adalah sebagai berikut:

  1. Karsa : 26,32%

  2. Ka-Ji : 25,11%

  3. SR (Tjipto - Hisjam) : 21,38%

  4. Salam (Sunarjo - Ali Maschan) : 19,54%

  5. Ahsan (Ahmadi - ) : 7,65%


Ini hasil pengumpulan TPS sample sebanyak 91,50% yang dilakukan LSI hingga pukul15.20 WIB.

Quick Count (QC) yang dilakukan selama ini memang jarang meleset. Dan manakala hingga akhir perhitungan dari kelima kandidat itu tidak bisa mencapai perolehan suara 30% plus, dipastikan akan dilakukan Pilkada putaran kedua, yang akan diikuti oleh kandidat yang berada di posisi pertama dan kedua.

Menurut perkiraan LSI, yang pasti masuk putaran kedua adalah pasangan Karsa. Sementara posisi kedua akan diperebutkan oleh pasangan Ka-Ji dan SR.

[ sumber : tvOne ]

Sunday, April 20, 2008

Daulat Rakyat: Kini Saatnya

Keponakan saya (kelas 5 SD) tanya kepada saya: "Besar mana Lurah sama Camat?"

"Besar Camat kalau dia gendut dan Lurahnya kurus......."

"Bukan itu....." sergah keponakan saya agak sewot.

"Di atas Lurah ada Camat. Di atasnya ada Bupati/Walikota. Di atasnya ada Gubernur. Di atasnya ada Presiden. Di atasnya ada MPR. Di atasnya ada Rakyat..........."

"Di atas Rakyat?" potong keponakan saya.

"Allah. Ini posisi yang paling puncak......" demikian saya mengakhiri pembicaraan itu, karena suara adzam Isya' sudah mulai berkumandang.

Turun dari Masjid, saat tiba di rumah, saya lantas teringat hasil Pilkada di Jabar dan Sumut. Di sana, terbuktikan bahwa daulat rakyat sudah mulai menampakkan hasilnya.

Di atas kertas, Heryawan-Dede harus kalah karena hanya diusung 28 kursi di DPRD I Jabar, dari PKS (21) dan PAN (7). Lawannya, Danny-Iwan, didukung 45 kursi: Golkar (28), Demokrat (9), PBB (1), dan PKB (7). Adapun Agum-Nu’man diusung 34 kursi, dari PDI-P (21) dan PPP (13).

Apalagi Danny-Iwan ”dibantu” Presiden Yudhoyono (5/4) dengan pengucuran Bantuan Langsung Masyarakat untuk Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Jawa Barat senilai total Rp 792 miliar.

Kenyataannya, PNPM pun tak mampu mendongkrak suara Danny-Iwan, uang dan dukungan Presiden bukan segalanya dalam Pilkada Jabar.

Rusia baru sudah lahir. Dmitry Medvedev (43) terpilih sebagai presiden baru. Sementara itu, Amerika Serikat (AS) sedang menanti Barack Hussein Obama Jr (46) sebagai presiden baru AS. Medvedev dan Obama adalah penanda terbaik lahirnya generasi baru kepemimpinan nasional di Rusia dan AS, berarti juga generasi baru kepemimpinan global. Publik di Rusia dan AS membutuhkan alternatif perubahan radikal dan baru terhadap kualitas kepemimpinan dan pengalaman. Obama menyahutnya, ”Our time for change has come!”............

Rusia dan AS meninggalkan politik status quo dan melakukan regenerasi kepemimpinan nasional, bahkan Al Gore (mantan wapres Bill Clinton) menyingkir secara elegan.

Tampaknya bola salju kemenangan kaum muda akan terus bergulir dalam pilkada di seluruh Indonesia pada 2008 ini, seperti di Jateng, Jatim, Riau, Lampung, Sumsel, dan sejumlah kabupaten/kota. Puncak bola salju ini adalah perebutan kepemimpinan nasional pada 2009 mendatang (dan telak mengalahkan) politisi ”sepuh”, melalui jalur parpol menengah/kecil maupun jalur perseorangan (bila dikabulkan rencana judicial review oleh Mahkamah Konstitusi atas UU No 23/2003 tentang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden), seperti Susilo Bambang Yudhoyono (58), Jusuf Kalla (65), BJ Habibie (71), Megawati Soekarnoputri (60), Abdurrahman Wahid (67), Amien Rais (63), Akbar Tandjung (62), Wiranto (60), Sutiyoso (63), Sultan Hamengku Buwono X (61), dan segenerasinya.

Kaum muda di Indonesia adalah pembuat sejarah. Karena itu, regenerasi kepemimpinan nasional seperti banjir sejarah yang tak bisa dibendung. Siapa pun yang mencoba menahan akan tenggelam menjadi pecundang. Kaum muda dan golput meneriakkan keyakinan Heraclitus, yang selalu digaungkan Bung Karno, ”tuan- tuan segalanya pasti berubah, Panta Rei.” [Bom Waktu Kaum Muda dan Golput, M Fadjroel Rachman, KOMPAS, Jumat, 18 April 2008 | 00:38 WIB]

Tuesday, March 18, 2008

Di Malang Kampanye Pilgub Dilarang?

malangatas.gifSuryalive, 18/03/2008 | 15:32:48 | memberitakan bahwa kampanye pemilihan gubernur (Pilgub) Jatim di wilayah Kota Malang ditiadakan."Berdasarkan kesepakatan KPU Jatim dan KPUD beberapa daerah yang Pilkadanya bersamaan dengan Pilgub Jatim, maka kampanye Pilgub ditiadakan saja, guna meminimalisir munculnya konflik serta agar tidak membingungkan masyarakat," terang calon "incumbent" Walikota Malang, Peni Suparto usai menghadiri pelantikan anggota Panwas Pilkada daerah itu di gedung DPRD, Selasa (18/3).

Menurutnya, kesepakatan tersebut cukup positif, karena semua pihak pasti tidak ingin adanya konflik ataupun kebingungan masyarakat yang daerahnya menggelar Pilkada (pemilihan walikota atau bupati) dan Pilgub secara bersamaan pada 23 Juli mendatang.

Ya, mudah-mudahan (meskipun) tanpa ada kampanye, para pemilih tak lantas salah pilih atau pilih seadanya. Karena nasib mereka (5 tahun ke depan) akan ditentukan cuma 5 menit.


Soegeng Rawoeh

Mudah-mudahan apa yang tertuang dalam blog ini ada guna dan manfaatnya.